Kamis, 23 Agustus 2012

Orang yang paling dekat dan jauh dengan Nabi di hari kiamat

Siapa Orang yang paling dekat dan jauh dengan Nabi di hari kiamat??

--
Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pa
da hari kiamat kelak adalah tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun.”
.
Sahabat berkata:
“Ya Rasulullah… kami sudah tahu arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiquun?”
.
Beliau menjawab,
“Orang yang sombong.”
.
(HR. Tirmidzi, ia berkata ‘hadits ini hasan gharib’. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Tirmidzi)
Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa orang yang paling dekat dengan beliau adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya. Maka apabila akhlak Anda semakin mulia niscaya kedudukan anda di hari kiamat kelak akan semakin dekat dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan selain Anda.
*
Sedangkan orang yang terjauh posisinya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
pada hari kiamat kelak adalah tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun (Syarh Riyadhush Shalihin, hal. 396-397)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa makna tsartsarun adalah orang yang banyak bicara dan suka menyerobot pembicaraan orang lain.
Apabila dia duduk ngobrol dalam suatu majelis dia sering menyerobot pembicaraan orang lain, sehingga seolah-olah tidak boleh ada yang bicara dalam majelis itu selain dia. Dia berbicara tanpa membiarkan orang lain leluasa berkata-kata. Perbuatan seperti ini tidak diragukan lagi termasuk kesombongan. Yang dimaksud majelis dalam konteks ini adalah pembicaraan-pembicaraan sehari-hari bukan majelis ilmu atau pengajian, sebab jika suatu saat Anda mendapat kesempatan untuk memberikan nasihat atau mengisi kajian di depan mereka lalu Anda sendirian yang lebih banyak berbicara maka hal ini tidaklah mengapa (lihat Syarh Riyadhush Shalihin, hal. 397)
*
Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa makna mutasyaddiqun adalah orang yang suka berbicara dengan gaya bicara yang meremehkan orang lain seolah-olah dia adalah orang paling fasih, itu dilakukannya karena kesombongan dan bangga diri yang berlebihan.
Seperti contohnya berbicara dengan menggunakan bahasa Arab di hadapan orang-orang awam, sebab kebanyakan orang awam tidak paham bahasa Arab.
Seandainya Anda mengajak bicara mereka dengan bahasa Arab maka tentulah hal itu terhitung sikap berlebihan dan memaksa-maksakan dalam pembicaraan.
Adapun jika Anda sedang mengajar di hadapan para penuntut ilmu maka biasakanlah berbicara dengan bahasa Arab dalam rangka mendidik dan melatih mereka agar sanggup berbicara dengan bahasa Arab.
Adapun terhadap orang awam maka tidak selayaknya Anda berbicara dengan mereka dengan bahasa Arab, tetapi bicaralah dengan mereka dengan bahasa yang mereka pahami dan jangan banyak memakai istilah-istilah asing,
.
artinya janganlah Anda menggunakan kata-kata asing yang sulit mereka mengerti, karena hal itu termasuk berlebihan dan angkuh dalam pembicaraan (lihat Syarh Riyadhush Shalihin, hal. 397)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan makna mutafaihiqun:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya yaitu orang-orang yang sombong. Orang sombong ini bersikap angkuh di hadapan orang-orang. Jika berdiri untuk berjalan seolah-olah dia berjalan di atas helaian daun (dengan langkah kaki yang dibuat-buat –pent) karena adanya kesombongan di dalam dirinya. Perilaku ini tak diragukan lagi termasuk akhlak yang sangat tercela, wajib bagi setiap orang untuk menghindarinya. Karena yang namanya orang tetap saja manusia biasa, maka hendaklah dia mengerti ukuran dirinya sendiri. Meskipun dia telah dikaruniai sekian banyak harta, kedalaman ilmu atau kedudukan yang tinggi oleh Allah, seyogyanya dia merendahkan diri (tawadhu’).
Sikap tawadhu’ orang-orang yang telah mendapat anugerah harta, ilmu, atau kedudukan tentu lebih utama nilainya daripada tawadhu’nya orang-orang yang tidak seperti mereka.
*

Oleh sebab itu terdapat dalam sebuah hadits yang memberitakan orang-orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah dan tidak disucikan-Nya pada hari kiamat, diantara mereka adalah:
“Orang miskin yang sombong”
Sebab orang miskin tidak mempunyai faktor pendorong (modal) untuk sombong….
Sudah semestinya orang-orang yang diberi anugerah nikmat oleh Allah semakin meningkatkan syukurnya kepada Allah serta semakin tambah tawadhu’ kepada sesama,
**
semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan seluruh umat Islam untuk memiliki akhlak yang mulia dan amal yang baik, dan semoga Allah menjauhkan kita dari akhlak-akhlak yang buruk dan amal-amal yang jelek, sesungguhnya Dia Maha dermawan lagi Maha mulia (lihat Syarah Riyadhush Shalihin, hal. 397-398)
*
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel muslim.or.id
Who is the most near and far with the Prophet on the day of resurrection??
#:)) ozil--narrated from Jabir Radi ' anhu that the Messenger of Allaah ' alaihi wa sallam said "surely the most I love among you and the closest position me on the day of resurrection would be the best akhlaqnya is the one. And I hate the most and most far away from me on the day of resurrection is future, mutasyaddiqun and tsartsarun mutafaihiqun. ".
A friend said: "O Messenger of Allah ... we already know the meaning of tsartsarun and mutasyaddiqun, then what is the meaning of mutafaihiquun?"
.
He said, "the proud."
.
(Narrated by Al-Tirmidhi, he said: ' this Hadith hasan gharib ''. This hadeeth was classed as Saheeh by al-albaani in Saheeh Sunan At Tirmidhi) in this hadeeth of the Messenger of Allaah ' alaihi wa sallam explains that the people closest to him are the ones who are best akhlaknya. Then if Your morals are getting your seat at this glorious day of resurrection would be getting close to him of Allaah ' alaihi wa sallam compared other than You.
* While the farthest position from the Prophet alaihi wa sallam on the day of resurrection is future, mutasyaddiqun and tsartsarun mutafaihiqun (Syarh Riyadhush, p. 396 Shalihin-397) Shaykh Muhammad Ibn Saalih al-' Uthaymeen, from kitaab explained that the meanings of the tsartsarun are the ones who talk much and likes to grab other people talk.
When he sits chatting in a house he used to grab other people's talk, so as if there should be no talking in the Assembly in addition to him. He spoke without allowing anyone else to speak freely. Deeds like this undoubtedly includes vanity. An Assembly in this context is the talk-talk everyday is not science or instruction, Assembly for if one day you get a chance to give advice or fill out the study in front of them and then you are alone a lot more talking then this is not why (see Syarh Riyadhush, p. 397 Shalihin) * Shaykh Muhammad Ibn Saalih al-' Uthaymeen, from kitaab explained that the meaning of mutasyaddiqun is a person who likes to talk with a dismissive style of talking to others as if he was the most eloquentIt was done because of vanity, and pride yourself overload.
Like for example talking to use Arabic in the presence of lay people, because most lay people don't understand Arabic.
If you invite them to talk with Arabic then it would have been redundant and forced countless attitude-maksakan in the talks.
As for if you are teaching in the presence of the Prosecutor then biasakanlah speak with Arabic in order to educate and train them in order to be able to speak Arabic.
As for the lay people and thus are not as You talk to them with Arabic, but talk to them in a language they understand and don't wear a lot of foreign terms.
does that mean You do not use foreign words are difficult to understand, because their matters that include excessive and arrogant in talks (see Syarh Riyadhush, p. 397 Shalihin) Shaykh Muhammad Ibn Saalih al-' Uthaymeen, from kitaab explains the meaning of mutafaihiqun: the Prophet alaihi wa sallam has explain it i.e. the snobbish people. This haughty arrogant people behave in the presence of people. If standing to walking as if he was walking on helaian leaves (with made-up FootFall – transition period) due to arrogance in him. This behavior will no doubt include a very deplorable morals, mandatory for everyone to avoid it. Because the people whose names are still mortal, then let him understand the size of himself or herself. Although he has been blessed with the many treasures, the depth of knowledge or a high position by God, he should humble yourself (tawadhu ').
Tawadhu ' attitude of the people who have got the gift of wealth, science, or the position of the main value is certainly more than tawadhu'nya people who don't like them.

* There are therefore in a Hadith who preach that people will not be spoken to by God and not consecrated him on the day of resurrection, among them are: "poor man's arrogant" for poor people do not have the driving factor (capital) to snob .... 

It should be the people who are given the grace bestowed by God to further improve her to God as well as getting added to fellow, tawadhu ' ** may Allah give her to me and the rest of the Muslims to have morals are noble and good deeds, and may God keep us from bad morals-morals and charity-charity is ugly, he is the Most noble benefactor again (see Sharh Riyadhush Shalihin, p. 397-398) * Author: Abu Mushlih Ari Wahyudi Article muslim.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar