Arthropoda (dalam bahasa latin, Arthra = ruas , buku, segmen ; podos =
kaki) merupakan hewan yang memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau
bersegmen.Segmen tersebut juga terdapat pada tubuhnya.Tubuh Arthropoda
merupakan simeri bilateral dan tergolong tripoblastik selomata.
Ciri tubuh
Ciri tubuh Arthropoda meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh.
Ukuran dan bentuk tubuh
Ukuran tubuh Arthropoda sangat beragam, beberapa diantaranya memiliki
panjang lebih dari 60 cm., namun kebanyakan berukuran kecil.Begitu pula
dengan bentuk Arthropoda pun beragam.
Struktur tubuh
Tubuh Arthropoda bersegmen dengan jumlah segmen yang bervariasi.Pada
tiap segmen tubuh tersebut terdapat sepasang kaki yang beruas.Segmen
bergabung membentuk bagian tubuh, yaitu Kaput (kepala), toraks (dada),
dan abdomen (perut).
Ciri lain dari Arthropoda adalah adanya kutikula keras yang membentuk
rangka luar (eksoskeleton).Eksoskeleton tersusun dari kitin yang di
sekresikan oleh sel kulit.Eksoskeleton melekat pada kulit membentuk
perlindungan tubuh yang kuat.
Eksoskeleton terdiri dari lempengan-lempengan yang dihubungkan oleh
ligamen yang fleksibel dan lunak.Eksoskeleton tidak dapat membesar
mengikuti pertumbuhan tubuh.Oleh karena itu, tahap pertumbuhan
Arthropoda selalu diikuti dengan pengelupasan eksoskeleton lama dan
pembentukan eksoskeleton baru.Tahap pelepasan eksoskeleton disebut
dengan molting atau ekdisis.Hewan yang biasanya melakukan ekdisis
misalnya kepiting, udang, dan laba-laba.
Sistem saraf Arthropoda berupa sistem saraf tangga tali berjumlah sepasang yang berada di sepanjang sisi ventral tubuhnya.
Pada berbagai tempat di segmen tubuh, ada pembesaran saraf tangga tali
yang disebut ganglia.Ganglia berfungsi sebagai pusat refleks dan
pengendalian berbagai kegiatan.Ganglia bagian anterior yang lebih besar
berfungsi sebagai otak.
Sistem pencernaan Arthropoda terdiri dari mulut, esofagus, lambung,
usus, dan anus.Mulutnya dilangkapi dengan berbagai alat tambahan yang
beragam, misalnya mandibula dan maksila pada belalang.
Arthropoda bernapas dengan insang, trakea, atau paru-paru buku.Sisa
metabolisme berupa cairan dikeluarkan oleh organ ekskresi yang disebut
saluran/tubula Malpighi, kelenjar ekskresi, atau keduanya.Sistem
sirkulasi Arthropoda bersifat terbuka.Sistem sirkulasi terdiri dari
jantung, pembuluh darah pendek, dan ruang disekitar organ tubuh yang
disebut sinus atau hemosol.Darah Arthropoda disebut juga hemolimfa.
Cara hidup dan habitat
Cara hidup Arthropoda sangat beragam, ada yang hidup bebas, parasit,
komensal, atau simbiotik.Dilingkungan kita, sering dijumpai kelompok
hewan ini, misalnya nyamuk, lalat, semut, kupu-kupu, capung, belalang,
dan lebah.
Habitat penyebaran Arthropoda sangat luas.Ada yang di laut, periran tawar, gurun pasir, dan padang rumput.
Reproduksi
Sistem reproduksi Arthropoda umumnya terjadi secara seksual.Namun ada juga yang secara aseksual, yaitu dengan partenogenesis.
Partenogenesis adalah pembentukan individu baru tanpa melalui
fertilisasi (pembuahan).Individu yang dihasilkan bersifat steril.Organ
reproduksi jantan dan betina pada Arthropoda terpisah, masing-masing
menghasilkan gamet pada individu yang berbeda sehingga bersifat dioseus
(berumah dua).Hasil fertilisasi berupa telur.
Klasifikasi
Arthropoda diklasifikasikan menjadi 20 kelas berdasarkan struktur tubuh
dan kaki.Berikut ini akan diuraikan empat kelas diantaranya yang paling
umum, yaitu Kelas Arachnoidea, Myriapoda, Crustacea, dan Insecta.
Arachnoidea
Arachnoidea (dalam bahasa yunani, arachno = laba-laba) disebut juga
kelompok laba-laba, meskipun anggotanya bukan laba-laba
saja.Kalajengking adalah salah satu contoh kelas Arachnoidea yang
jumlahnya sekitar 32 spesies.Ukuran tubuh Arachnoidea bervariasi, ada
yang panjangnya lebih kecil dari 0,5 mm sampai 9 cm.Arachnoidea
merupakan hewan terestrial (darat) yang hidup secara bebas maupun
parasit.Arachnoidea yang hidup bebas bersifat karnivora.Arachnoidea
dibedakan menjadi tiga ordo, yaitu Scorpionida, Arachnida, dan
Acarina.Scorpionida memiliki alat penyengat beracun pada segmen abdomen
terakhir, contoh hewan ini adalah kalajengking (Uroctonus mordax) dan
ketunggeng ( Buthus after).Pada Arachnida, abdomen tidak bersegmen dan
memiliki kelenjar beracun pada kaliseranya (alat sengat), contoh hewan
ini adalah Laba-laba serigala (Pardosa amenata), laba-laba kemlandingan
(Nephila maculata).Acarina memiliki tubuh yang sangat kecil, contohnya
adalah caplak atau tungau (Acarina sp.).
Berikut adalah ciri-ciri dari salah satu hewan Arachnoidea yang sering
kita jumpai, yaitu laba-laba.Tubuhnya terdiri dari dua bagian, yaitu
sefalotoraks (kepala-dada) pada bagian anterior dan abdomen pada bagian
posterior.Sefalotoraks adalah penyatuan tubuh bagian sefal atau kaput
(kepala) dan bagian toraks (dada).Pada sefalotoraks terdapat sepasang
kalisera (alat sengat), sepasang pedipalpus (capit), dan enam pasang
kaki untuk berjalan.Kalisera dan pedipalpus merupakan alat tambahan pada
mulut.
Pada bagian abdomen (opistosoma) laba-laba terdiri dari mesosoma dan
metasoma.Pada bagian posterior abdomen terdapat spineret yang merupakan
organ berbentuk kerucut dan dapat berputar bebas.Didalam spineret
terdapat banyak spigot yang merupakan lubang pengeluaran kelenjar benang
halus atau kelenjar benang abdomen.Kelenjar benang halus mensekresikan
cairan yang mengandung protein elastik.Protein elastik tersebut akan
mengeras di udara membentuk benang halus yang digunakan untuk menjebak
mangsa.
Laba-laba bernapas dengan paru-paru buku atau trakea.Paru-paru buku
adalah organ respirasi berlapis banyak seperti buku dan terletak pada
bagian abdomen.Ekskresi laba-laba dilakukan dengan tubula ( tunggal =
tubulus ) Malpighi.Tubula Malpighi merupakan tabung kecil panjang dan
buntu dan organ ini terletak di dalam hemosol yang bermuara ke dalam
usus.Selain Tubula Malpighi, ekskresi lainnya dilakukan dengan kelenjar
koksal.Kelenjar koksal merupakan kelenjar ekskretori buntu yang bermuara
pada daerah koksa (segmen pada kaki insecta).
Myriapoda
Myriapoda (dalam bahasa yunani, myria = banyak, podos = kaki) merupakan
hewan berkaki banyak.Hewan kaki seribu adalah salah satunya yang
terkadang kita lihat di lingkungan sekitar kita.Myriapoda hidup di darat
pada tempat lembap, misalnya di bawah daun, batu, atau tumpukan
kayu.Bagian tubuh Myriapoda sulit dibedakan antara toraks dan
abdomen.Tubuhnya memanjang seperti cacing.
Pada kaput terdapat antena, mulut, dan satu pasang mandibula (rahang
bawah), dua pasang maksila (rahang atas), dan mata yang berbentuk oseli
(mata tunggal).Tubunya bersegmen dengan satu hingga dua pasang anggota
badan pada tiap segmennya.Setiap segmen terdapat lubang respirasi yang
disebut spirakel yang menuju ke trakea.Ekskresinya dengan tubula
malpighi.Myriapoda bersifat dioseus dan melakukan repsroduksi seksual
secara internal.Myriapoda dibedakan menjadi dua ordo, yaitu Chilopoda
dan Diplopoda.
Chilopoda
Kelompok hewan ini dikenal sebagai kelabang.Tubuhnya memanjang dan
agak pipih.Pada kepalanya terdapat antena dan mulut dengan sepasang
mandibula dan dua pasang maksila.Pada tiap segmen tubuhnya terdapat kaki
dan sepasang spirakel.Pasangan pertama kaki termodifikasi menjadi alt
beracun.Alat penyengat digunakan unutk menyengat musuh atau
pengganggunya.Sengatannya menimbulkan bengkak dan rasa sakit.Contoh
hewan ini adalah kelabang (scutigera sp.).
Diplopoda
Hewan pada ordo ini dikenal dengan kaki seribu, meskipun jumlah kakinya
bukan berjumlah seribu.Ada yang menyebutkan nama lain seperti
keluwing.Tubuhnya bulat panjang.Mulutnya terdiri dari dua pasang maksila
dan bibir bawah.Pada tiap segmen tubuhnya terdapat dua pasang kaki dan
dua pasang spirakel.Diplopoda tidak memiliki cakar beracun karenanya
hewan ini bersifat hebivora atau pemakan sisa organisme.Gerakkan hewan
ini lambat dengan kaki yang bergerak seperti gelombang.Bila terganggu
hewan ini akan menggulungkan tubuhnya dan pura-pura mati.Contoh hewan
ini adalah kaki seribu(lulus sp.).
Crustacea
Crustacea (dalam bahasa latinnya, crusta = kulit) memiliki kulit yang
keras.Udang, lobster, dan kepiting adalah contoh kelompok ini.
Umumnya hewan Crustacea merupakan hewan akuatik, meskipun ada yang hidup
di darat.Crustacea dibedakan menjadi dua subkelas berdasarkan ukuran
tubuhnya, yaitu Entomostraca dan Malacostraca.
Entomostraca
Entomostraca adalah crustacea yang berukuran mikroskopik, hidup sebagai
zooplankton atau bentos di perairan, dan juga ada yang sebagai
parasit.Contoh hewan ini adalah Daphnia, Cypris virens, dan Cyclops sp.
Malacostraca
Malacostraca adalah crustacea yang berukuran lebih besar dari pada
entomostraca.Hewan yang termasuk kelompok ini adalah Udang, lobster, dan
kepiting.Berikut akan dibahas sedikit mengenai urain hewan kelompok
satu ini.
Udang memiliki ekssoskeleton yang keras untuk melindungi
tubuhnya.Tubuhnya terdiri dari dua bagian, yaitu kaput dan toraks yang
menyatu membentuk sefalotoraks, serta abdomen.Dibagian sefalotoraks
dilindungi oleh eksoskeleton yang keras berupa karapaks.Karapaks
memiliki duri di ujung anterior yang disebut rostrum.Di dekat rostrum
terdapar mata faset ( majemuk) yang bertangkai.Pada kaput sefalotoraks
merupakan penyatuan lima segmen.Dibagian kaput terdapat sepasang
antenula, sepasang antena, dan tiga pasang bagian mulut.Antenula
berfungsi sebagai alat peraba, sedangkan antena sebagai alat
keseimbangan tubuh.Tiga pasang mulut terdiri dari sepasang mandibula dan
dua pasang maksila.Pada bagian toraks terdiri dari delapan segmen,
terdapat tiga pasang maksiliped, sepasang seliped, dan empat pasang kaki
jalan(periopod).
Maksiliped tersebut berfungsi sebgai penyaring makanan.Seliped berfungsi
untuk mencari makanan dan melindungi diri dari musuh.Pada bagian
abdomen terdapat lima pasang kaki renang (pleopod).Pada ujung posterior
terdapat telson dan sepasang alat kemudi untuk berenang (urupod).Pada
udang jantan, pasangan pleopod 1 dan 2 bersatu menjadi gonopod.Gonopod
berfungsi sebagai penyalur sperma saat kopulasi.Sedangkan pada wanita
berfungsi untuk melekatkan telur dan membawa anaknya.Saluran pencernaan
udang terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus.Mulut dan
esofagus terletak di bagian bawah sefalotoraks.Lambung ( terletak di
sefalotoraks ) dan usus ( terletak di abdomen ) berada disepanjang
bagian dorsal tubuh.Hati yang merupakan kelanjar pencernaan terletak di
bagian toraks dan abdomen.makanan udang berupa berudu, larva, serangga,
dan ikan-ikan kecil.Sisa metabolisme dikeluarkan melalui alat kelenjar
hijau yang terletak di kepalanya.Pernapasan dilakukan dengan insang yang
terdapat di bagian ventral tubuhnya dekat kaki.Sistem peredaran darah
terdiri dari jantung, pembuluh darah, dan sinus yang rongganya
berdinding tipis.Organ kelamin bersifat dioseus.
Insecta
Insecta (dalam bahasa latin, insecti = serangga).Banyak anggota hewan
ini sering kita jumpai disekitar kita, misalnya kupu-kupu, nyamuk,
lalat, lebah, semut, capung, jangkrik, belalang,dan lebah.Ciri khususnya
adalah kakinya yang berjumlah enam buah.
Karena itu pula sering juga disebut hexapoda.
Insecta dapat hidup di bergagai habitat, yaitu air tawar, laut dan
darat.Hewan ini merupakan satu-satunya kelompok invertebrata yang dapat
terbang.Insecta ada yang hidup bebas dan ada yang sebagai parasit.
Tubuh Insecta dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu kaput, toraks, dan
abdomen.Kaput memiliki organ yang berkembang baik, yaitu adanya sepasang
antena, mata majemuk (mata faset), dan mata tunggal (oseli).Insecta
memiliki organ perasa disebut palpus.
Insecta yang memiliki syap pada segmen kedua dan ketiga.Bagian abdomen Insecta tidak memiliki anggota tubuh.Pada abdomennya
terdapat spirakel, yaitu lubang pernapasan yang menuju tabung
trakea.Trakea merupakan alat pernapasan pada Insecta.Pada abdomen juga
terdapat tubula malpighi, yaitu alt ekskresi yang melekat pada posterior
saluran pencernaan.Sistem sirkulasinya terbuka.Organ kelaminnya
dioseus.
*Perkembangan Insecta dibedakan menjadi tiga :
Pertama Ametabola adalah perkembangan yang hanya berupa pertambahan
ukuran saja tanpa perubahan wujud.Contohnya kutu buku (lepisma
saccharina)
Kedua Hemimetabola adalah tahap perkembangan Insecta yang tidak
sempurna, dimana Insecta muda yang menetas mirip dengan induknya, tetapi
ada organ yang belum muncul, misalnya sayap.Sayap itu akan muncul
hingga pada saat dewasa hewan tersebut.
Insecta muda disebut nimfa.Ringkasan skemanya adalah telur – nimfa
(larva) – dewasa (imago).Contoh Insecta ini adalah belalang, kecoa
(periplaneta americana), jangkrik (gryllus sp.), dan walang sangit
(leptocorisa acuta).
Ketiga Holometabola adalah perkembangan Insecta dengan setiap tahap menunjukan perubahan wujud yang sanagt berbeda (sempurna).
Tahapnya adalah sebagai berikut ; telur – larva – pupa – dewasa.Larvanya
berbentuk ulat tumbuh dan mengalami ekdisis beberapa kali.
Setalah itu larva menghasilkan pelindung keras disekuur tubuhnya untuk
membentuk pupa..Pupa berkembang menjadi bagian tubuh seperti antena,
sayap, kaki, organ reproduksi, dan organ lainnya yang merupakan struktur
Insecta dewasa.Selanjutnya, Insecta dewasa keluar dari pupa.Contoh
Insecta ini adalah kupu-kupu, lalat, dan nyamuk.
*Berdasarkan sayap,Insecta dibedakan menjadi dua sub-kelas :
Pertama Apterigota (tidak bersayap), tubuh apterigota berukuran kecil
sekitar 0,5 cm dan memiliki antena panjang.Umumnya berkembang secara
ametabola.Contoh hewan kelas ini adalah kutu buku.
Kedua Pterigota (bersayap), merupakan kelompok insecta yang sayapnya
berasal dari tonjolan luar dinding tubuh yang disebut
Eksopterigota.Kelompok lain yang sayapnya berasal dari tonjolan dalam
dinding tubuh disebut Endopterigota.
Eksopterigota dibedakan menjadi beberapa ordo bedasarkan tipe sayap, mulut, dan metamorfosisnya :
- Orthoptera memiliki dua pasang sayap dengan sayap depan yang sempit.Misalnya kecoa, jangkrik, dan gansir
- Hemiptera memiliki dua pasang sayap yang tidak sama panjang.Contohnya
walang sangit (leptocorisa acuta) dan kutu busuk (cymex rotundus)
- Homoptera memiliki dua pasang yang sama panjang.Contohnya wereng
coklat (Nilaparvata lugens), kutu daun (Aphis), dan kutu kepala
(Pediculus humanus)
- Odonata memiliki dua pasang sayap seperti jala.Contohnya capung (pantala).
Endopterigota dibedakan menjadi :
- Coleptera memiliki dua pasang sayap dengan sayap depan yang keras dan
tebal.Misalnya kumbang tanduk (Orycies rhinoceros) dan kutu gabah
(Rhyzoperta diminica)
- Hymenoptera memiliki dua pasang sayap yang seperti selaput, dengan sayap depan lebih besar daripada sayap belakang.
Misalnya semut rangrang (Oecophylla saragillina), semut hitam
(Monomorium sp.), lebah madu (Apis indica), dan tawon (Xylocopa latipes)
- Diptera hanya memiliki sepasang sayap.Misalnya nyamuk (culex sp.),
nyamuk malaria (Anopheles sp), nyamuk demam berdarah (Aedes Aegypti),
lalat rumah (Musca domestica), lalat buah (Drosophila melanogaster), dan
lalat tse-tse (Glossina palpalis)
- Lepidoptera memiliki dua pasang sayap yang bersisik halus dan tipe
mulut mengisap.Misalnya kupu-kupu sutera (Bombyx mori) dan kupu-kupu
elang (Acherontia atropos)
Peran Arthropoda bagi manusia
Berbagai jenis Arthropoda memberikan keuntungan dan kerugian bagi
manusia.Peran arthropoda yang menguntungkan manusia misalnya dibidang
pangan dan sandang yaitu sebagai berikut :
-Sumber makanan yang mengandung protein hewani tinggi.Misalnya Udang
windu (Panaeus monodon), rajingan (portunus pelagicus), kepiting (scylla
serrata), dan udang karang (panulirus versicolor)
-Penghasil madu, yaitu lebah madu (Apis indica)
-Bahan industri kain sutera, yaitu pupa kupu-kupu sutera (Bombyx mori)
Sementara yang merugikan manusia anatara lain :
-Vektor perantara penyakit bagi manusia.Misalnya nyamuk malaria, nyamuk
demam berdarah, lalat tsetse sebagai vektor penyakit tidur, dan lalat
rumah sebagai vektor penyakit tifus.
-Menimbulkan gangguan pada manusia.Misalnya caplak penyebab kudis, kutu kepala, dan kutu busuk
-Hama tanaman pangan dan industri.Contohnya wereng coklat dan kumbang tanduk
-Perusak makanan.Contohnya kutu gabah
-Perusak produk berbahan baku alam.Contohnya rayap dan kutu buku
Kamis, 06 September 2012
Mengenal Phylum Coelenterata (Cnidaria)
Karang yang ada di pantai tebentuk dari kerangka luar tubuh salah
satu jenis coelenterata.Coelenterata (dalam bahasa yunani, coelenteron =
rongga) adalah invertebrata yang memiliki rongga tubuh.Rongga tubuh
tersebut berfungsi sebagai alat pencernaan
(gastrovaskuler).Coeleanterata disebut juga Cnidaria (dalam bahasa
yunani, cnido = penyengat) karena sesuai dengan cirinya yang memiliki
sel penyengat.Sel penyengat terletak pada tentakel yang terdapat
disekitar mulutnya.
Coelenterata memiliki struktur tubuh yang lebih kompleks.Sel-sel Coelenterata sudah terorganisasi membentuk jaringan dan fungsi dikoordinasi oleh saraf sederhana.
Ciri tubuh
Ciri tubuh Coelenterata meliputi ukurang, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh.
Ukuran dan bentuk tubuh
Ukuran tubuh Coelenterata beraneka ragam.Ada yang penjangnya beberapa milimeter, misal Hydra dan ada yang mencapai diameter 2 m, misalnya Cyanea.Tubuh Coelenterata simetris radial dengan bentuk berupa medusa atau polip.Medusa berbentuk seperti lonceng atau payung yang dikelilingi oleh “lengan-lengan” (tentakel).Polip berbentuk seperti tabung atau seperti medusa yang memanjang.
Struktur dan fungsi tubuh
Coelenterata merupakan hewan diploblastik karena tubuhnya memiliki dua lapisan sel, yaitu ektoderm (epidermis) dan endoderm (lapisan dalam atau gastrodermis).Ektoderm berfungsi sebagai pelindung sedang endoderm berfungsi untuk pencernaan.Sel-sel gastrodermis berbatasan dengan coelenteron atau gastrosol.Gastrosol adalah pencernaan yang berbentuk kantong.Makanan yang masuk ke dalam gastrosol akan dicerna dengan bantuan enzim yang dikeluarkan oleh sel-sel gastrodermis.Pencernaan di dalam gastrosol disebut sebagai pencernaan ekstraseluler.Hasil pencernaan dalam gasrosol akan ditelan oleh sel-sel gastrodermis untuk kemudian dicerna lebih lanjut dalam vakuola makanan.Pencernaan di dalam sel gastrodermis disebut pencernaan intraseluler.Sari makanan kemudian diedarkan ke bagian tubuh lainnya secara difusi.Begitu pula untuk pengambilan oksigen dan pembuangan karbondioksida secara difusi.Coelenterata memiliki sistem saraf sederhana yang tersebar benrbentuk jala yang berfungsi mengendalikan gerakan dalam merespon rangsangan.
Sistem saraf terdapat pada mesoglea.Mesoglea adalah lapisan bukan sel yang terdapat diantara lapisan epidermis dan gastrodermis.Gastrodermis tersusun dari bahan gelatin.
Tubuh Coelenterata yang berbentuk polip, terdiri dari bagian kaki, tubuh, dan mulut.Mulut dikelilingi oleh tentakel.Coelenterata yang berbetuk medusa tidak memiliki bagian kaki.Mulut berfungsi untuk menelan makanan dan mengeluarkan sisa makanan
karena Coelenterata tidak memiliki anus.Tentakel berfungsi untuk menangkap mangsa dan memasukan makanan ke dalam mulut.Pada permukaan tentakel terdapat sel-sel yang disebut knidosit (knidosista) atau knidoblas.Setiap knidosit mengandung kapsul penyengat yang disebut nematokis (nematosista).
Cara hidup
Coelenterata hidup bebas secara heterotrof dengan memangsa plankton dan hewan kecil di air.Mangsa menempel pada knodosit dan ditangkap oleh tentakel untuk dimasukkan kedalam mulut.Habitat Coelenterata seluruhnya hidup di air, baik di laut maupun di air tawar.Sebagaian besar hidup dilaut secara soliter atau berkoloni. Ada yang melekat pada bebatuan atau benda lain di dasar perairan dan tidak dapat berpindah untuk bentuk polip, sedangkan bentuk medusa dapat bergerak bebas melayang di air.
Reproduksi
Reproduksi Coelenterata terjadi secara aseksual dan seksual.Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembentukan tunas.Pembentukan tunas selalu terjadi pada Coelenterata yang berbentuk polip.Tunas tumbuh di dekat kaki polip dan akan tetap melekat pada tubuh induknya sehingga membentuk koloni. Reproduksi seksual dilakukan dengan pembentukan gamet (ovum dengan sperma).Gamet dihasilakan oleh seluruh Coelenterata bentuk medusa dan beberapa Coelenterata bentuk polip.Contoh Coelenterata berbentuk polip yang membentuk gamet adalah hydra.
Klasifikasi
Coelenterata dibedakan dalam tiga kelas berdasarkan bentuk yang dominan dalam siklus hidupnya, yaitu Hydrozoa, Scypozoa, dan Anthozoa.
Hydrozoa
Hydrozoa
(dalam bahasa yunani, hydro = air, zoa = hewan) sebagian besar memiliki
pergiliran bentuk polip dan medusa dalam siklus hidupnya.Hydrozoa dapat
hidup soliter.Contoh Hydrozoa adalah Hydra, Obelia, dan Physalia.
Untuk Obelia merupakan Hydrozoa yang hidupnya berkoloni di laut.Obelia memiliki bentuk polip dan medusa dalam siklus hidupnya.
Scyphozoa
Scyphozoa (dalam bahasa yunani, scypho = mangkuk, zoa = hewan) memiliki bentuk dominan berupa medusa dalam siklus hidupnya.Medusa Scyphozoa dikenal dengan ubur-ubur.Medusa umumnya berukuran 2 – 40 cm.Reproduksi dilakukan secara aseksual dan seksual.Polip yang berukuran kecil menghasilkan medusa secara aseksual.Contoh Scyphozoa adalah Cyanea dan Chrysaora fruttescens.
Anthozoa
Anthozoa (dalam bahasa yunani, anthus = bunga, zoa = hewan) memiliki banyak tentakel yang berwarna-warni seperti bunga.Anthozoa tidak memiliki bentuk medusa,hanya bentuk polip.Polip Anthozoa berukuran lebih besar dari dua kelas Coelenterata lainnya.Hidupnya di laut dangkal secara berkoloni.Anthozoa bereproduksi secara aseksual dengan tunas dan fragmentasi, serta reproduksi seksual menghasilkan gamet.
Contoh Anthozoa adalah Tubastrea (koral atau karang), Acropora, Urticina (Anemon laut), dan turbinaria.Koral hidup di air jernih dan dangkal karena koral bersimbiosis dengan ganggang.Ganggang memberikan makanan dan membantu pembentukan rangka pada koral.Sedangkan koral memberikan buangan yang merupakan makanan bagi ganggang serta perlindungan bagi ganggang dari herbivora.Rangka koral tersusun dari zat kapur.Rangka koloni dari polip koral inilah yang membentuk karang pantai (terumbu karang) atau atol (pulau karang).
Peranan Coelenterata dalam Kehidupan Manusia
Coelenterata terutama kelas Anthozoa yaitu koral atau karang merupakan komponen utama pembentuk ekosistem terumbu karang.Ekosistem terumbu karang merupakan tempat hidup beragam jenis hewan dan ganggang.Keanekaragaman organisme terumbu karang yang paling tingg terdapat di Asia Tenggara, dari Filipina dan Indonesia hinggaq Great Barier Reef di Australia.Dua puluh lima persen ikan yang dikonsumsi manusia juga hidup pada ekosistem ini.Selain itu, terumbu karang sanga indah sehingga dapat di jadikan objek wisata. Karang di pantai sangat bermanfaat sebagai penahan ombak untuk mencengah pengikisan pantai.
Coelenterata memiliki struktur tubuh yang lebih kompleks.Sel-sel Coelenterata sudah terorganisasi membentuk jaringan dan fungsi dikoordinasi oleh saraf sederhana.
Ciri tubuh
Ciri tubuh Coelenterata meliputi ukurang, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh.
Ukuran dan bentuk tubuh
Ukuran tubuh Coelenterata beraneka ragam.Ada yang penjangnya beberapa milimeter, misal Hydra dan ada yang mencapai diameter 2 m, misalnya Cyanea.Tubuh Coelenterata simetris radial dengan bentuk berupa medusa atau polip.Medusa berbentuk seperti lonceng atau payung yang dikelilingi oleh “lengan-lengan” (tentakel).Polip berbentuk seperti tabung atau seperti medusa yang memanjang.
Struktur dan fungsi tubuh
Coelenterata merupakan hewan diploblastik karena tubuhnya memiliki dua lapisan sel, yaitu ektoderm (epidermis) dan endoderm (lapisan dalam atau gastrodermis).Ektoderm berfungsi sebagai pelindung sedang endoderm berfungsi untuk pencernaan.Sel-sel gastrodermis berbatasan dengan coelenteron atau gastrosol.Gastrosol adalah pencernaan yang berbentuk kantong.Makanan yang masuk ke dalam gastrosol akan dicerna dengan bantuan enzim yang dikeluarkan oleh sel-sel gastrodermis.Pencernaan di dalam gastrosol disebut sebagai pencernaan ekstraseluler.Hasil pencernaan dalam gasrosol akan ditelan oleh sel-sel gastrodermis untuk kemudian dicerna lebih lanjut dalam vakuola makanan.Pencernaan di dalam sel gastrodermis disebut pencernaan intraseluler.Sari makanan kemudian diedarkan ke bagian tubuh lainnya secara difusi.Begitu pula untuk pengambilan oksigen dan pembuangan karbondioksida secara difusi.Coelenterata memiliki sistem saraf sederhana yang tersebar benrbentuk jala yang berfungsi mengendalikan gerakan dalam merespon rangsangan.
Sistem saraf terdapat pada mesoglea.Mesoglea adalah lapisan bukan sel yang terdapat diantara lapisan epidermis dan gastrodermis.Gastrodermis tersusun dari bahan gelatin.
Tubuh Coelenterata yang berbentuk polip, terdiri dari bagian kaki, tubuh, dan mulut.Mulut dikelilingi oleh tentakel.Coelenterata yang berbetuk medusa tidak memiliki bagian kaki.Mulut berfungsi untuk menelan makanan dan mengeluarkan sisa makanan
karena Coelenterata tidak memiliki anus.Tentakel berfungsi untuk menangkap mangsa dan memasukan makanan ke dalam mulut.Pada permukaan tentakel terdapat sel-sel yang disebut knidosit (knidosista) atau knidoblas.Setiap knidosit mengandung kapsul penyengat yang disebut nematokis (nematosista).
Cara hidup
Coelenterata hidup bebas secara heterotrof dengan memangsa plankton dan hewan kecil di air.Mangsa menempel pada knodosit dan ditangkap oleh tentakel untuk dimasukkan kedalam mulut.Habitat Coelenterata seluruhnya hidup di air, baik di laut maupun di air tawar.Sebagaian besar hidup dilaut secara soliter atau berkoloni. Ada yang melekat pada bebatuan atau benda lain di dasar perairan dan tidak dapat berpindah untuk bentuk polip, sedangkan bentuk medusa dapat bergerak bebas melayang di air.
Reproduksi
Reproduksi Coelenterata terjadi secara aseksual dan seksual.Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembentukan tunas.Pembentukan tunas selalu terjadi pada Coelenterata yang berbentuk polip.Tunas tumbuh di dekat kaki polip dan akan tetap melekat pada tubuh induknya sehingga membentuk koloni. Reproduksi seksual dilakukan dengan pembentukan gamet (ovum dengan sperma).Gamet dihasilakan oleh seluruh Coelenterata bentuk medusa dan beberapa Coelenterata bentuk polip.Contoh Coelenterata berbentuk polip yang membentuk gamet adalah hydra.
Klasifikasi
Coelenterata dibedakan dalam tiga kelas berdasarkan bentuk yang dominan dalam siklus hidupnya, yaitu Hydrozoa, Scypozoa, dan Anthozoa.
Hydrozoa
Untuk Obelia merupakan Hydrozoa yang hidupnya berkoloni di laut.Obelia memiliki bentuk polip dan medusa dalam siklus hidupnya.
Scyphozoa
Scyphozoa (dalam bahasa yunani, scypho = mangkuk, zoa = hewan) memiliki bentuk dominan berupa medusa dalam siklus hidupnya.Medusa Scyphozoa dikenal dengan ubur-ubur.Medusa umumnya berukuran 2 – 40 cm.Reproduksi dilakukan secara aseksual dan seksual.Polip yang berukuran kecil menghasilkan medusa secara aseksual.Contoh Scyphozoa adalah Cyanea dan Chrysaora fruttescens.
Anthozoa
Anthozoa (dalam bahasa yunani, anthus = bunga, zoa = hewan) memiliki banyak tentakel yang berwarna-warni seperti bunga.Anthozoa tidak memiliki bentuk medusa,hanya bentuk polip.Polip Anthozoa berukuran lebih besar dari dua kelas Coelenterata lainnya.Hidupnya di laut dangkal secara berkoloni.Anthozoa bereproduksi secara aseksual dengan tunas dan fragmentasi, serta reproduksi seksual menghasilkan gamet.
Contoh Anthozoa adalah Tubastrea (koral atau karang), Acropora, Urticina (Anemon laut), dan turbinaria.Koral hidup di air jernih dan dangkal karena koral bersimbiosis dengan ganggang.Ganggang memberikan makanan dan membantu pembentukan rangka pada koral.Sedangkan koral memberikan buangan yang merupakan makanan bagi ganggang serta perlindungan bagi ganggang dari herbivora.Rangka koral tersusun dari zat kapur.Rangka koloni dari polip koral inilah yang membentuk karang pantai (terumbu karang) atau atol (pulau karang).
Peranan Coelenterata dalam Kehidupan Manusia
Coelenterata terutama kelas Anthozoa yaitu koral atau karang merupakan komponen utama pembentuk ekosistem terumbu karang.Ekosistem terumbu karang merupakan tempat hidup beragam jenis hewan dan ganggang.Keanekaragaman organisme terumbu karang yang paling tingg terdapat di Asia Tenggara, dari Filipina dan Indonesia hinggaq Great Barier Reef di Australia.Dua puluh lima persen ikan yang dikonsumsi manusia juga hidup pada ekosistem ini.Selain itu, terumbu karang sanga indah sehingga dapat di jadikan objek wisata. Karang di pantai sangat bermanfaat sebagai penahan ombak untuk mencengah pengikisan pantai.
Mengenal Seluk Beluk Phylum Porifera
Porifera dalam bahasa latin , porus artinya pori, sedangkan fer
artinya membawa.Porifera adalah hewan multiseluler atau metazoa yang
paling sederhana.Karena hewan ini memiliki ciri yaitu tubuhnya berpori
seperti busa tau spons sehinggaporifera disebut juga sebagai hewan
spons.
Ciri Tubuh
Ciri tubuh Porifera meliputi ukuran, bentuk, struktur dan fungsi tubuh.
Ukuran dan bentuk
Ukuran porifera sangat beragam.Beberapa jenis porifera ada yang berukuran sebesar butiran beras,
sedangkan jenis yang lainnya bisa memiliki tinggi dan diameter hingga 2 meter.
Tubuh porifera pada umumnya asimetris atau tidak beraturan meskipun ada yang simetris radial.
Bentuknya ada yang seperti tabung, vas bunga, mangkuk, atau bercabang seperti tumbuhan.
Tubuhnya memiliki lubang-lubang kecil atau pori(ostium).Warna tubuh bervariasi, ada yang berwarna pucat,
dan ada yang berwarna cerah, seperti merah, jingga, kuning bahkan ungu.
Struktur dan fungsi tubuh
Tubuh porifera belum membentuk jaringan dan organ sehingga porifera dikelompokkan dalam protozoa.
Permukaan luar tubuhnya tersusun dari sel-sel berbentuk pipih dan berdiding tebal yang disebut pinakosit.
Pinakosit berfungsi sebagai pelindung.Diantara pinakosit terdapat pori-pori yang membentuk saluran air yang bermuara di spongosol atau rongga tubuh.Spongosol dilapisi oleh sel “berleher” yang memiliki flagelum, yang disebut koanosit.Flagelum yang bergerak pada koanosit berfungsi untuk membentuk aliran air saru arah sehingga air yang mengandung makanan dan oksigen masuk melalui pori ke spongosol.Di spongosol makanan ditelan secara fagositosis dan oksigen diserap secara difusi oleh koanosit.Sisa pembuangan dikeluarkan melalui lubang yang disebut oskulum.
Zat makanan dan oksigen selalin digunakan oleh koanosit, sebagian juga ditransfer secara difusi ke sel-sel yang selalu bergerak seperti amoeba, yaitu amoebosit (sel amoeboid).Fungsinya pun sama yaitu mengedarkan makan dan oksigen keseluruh sel-sel tubuh lainnya.
Cara hidup dan Habitat
Porifera hidup secara heterotof.Makananya adalah bakteri dan plankton.Makanan yang masuk kedalam tubuhnya berbentuk cairan.Pencernaan dilakukan secara intraseluler di dalam koanosit dan amoebosit.Habitat porifera umumnya di laut, mulai dari tepi pantai hingga laut dengan kedalaman 5 km.Sekitar 150 jenis porifera hidup di ait tawar, misalnya Haliciona dari kelas Demospongia.Porifera yang telah dewasa tidak dapat berpindah tempat (sesil), hidupnya menempel pada batu atau benda lainya di dasar laut.Karena porifera yang bercirikan tidak dapat berpindah tempat, kadang porifera dianggap sebagai tumbuhan.
Reproduksi
Porifera melakukan reproduksi secara aseksual maupun seksual.Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan tunas dan gemmule.Gemmule disebut juga tunas internal.Gemmule dihasilkan hanya menjelang musim dingin di dalam tubuh porifera yang hidup di air tawar.Porifera dapat membentuk individu baru dengan regenerasi.Reproduksi seksual dilakukan dengan pembentukan gamet (antara sperma dan ovum).Ovum dan sperma dihasilkan oleh koanosit.Sebagian besar Porifera menghasilkan ovum dan juga sperma pada individu yang sama sehingga porifera bersifat Hemafrodit.
Klasifikasi porifera
Berdasarkan bahan penyusun rangkanya, porifera diklasifikasikan menjadi tiga kelas, yaitu Hexactinellida atau Hyalospongiae, Demospongiae, dan Calcarea (Calcisspongiae).
Hexactinellida (Hyalospongiae)
Hexactinellida (dalam bahasa yunani, hexa = enam) atau Hyalospongiae (dalam bahasa yunani, hyalo = kaca/transparan, spongia = spons) memiliki spikula yang tersusun dari silika.Ujung spikula berjumlah enam seperti bintang.Tubuhnya kebanyakan berwarna pucat dengan bentuk vas bunga atau mangkuk.Tinggi tubuhnya rata-rata 10-30 cm dengan saluran tipe sikonoid.Hewan ini hidup soliter di laut pada kedalaman 200 – 1.000 m.Contoh Hexactinellida adalah Euplectella.
Demospongiae
Demospongiae ( dalam bahasa yunani, demo = tebal, spongia = spons) memiliki rangka yang tersusun dari serabut spongin.
Tubuhnya berwarna cerah karena mengandung pigmen yang terdapat pada amoebosit.Fungsi warna diduga untuk melindungi tubuhnya dari sinar matahari.Bentuk tubuhnya tidak beraturan dan bercabang.Tinggi dan diameternya ada yang mencapai lebih dari 1 meter.Seluruh Demospongiae memiliki saluran air tipe Leukonoid.Habitat Demospongiae umumnya di laut dalam maupun dangkal, meskipun ada yang di air tawar.Demospongiae adalah satu-satunya kelompok porifera yang anggotanya ada yang hidup di air tawar.Demospongiae merupakan kelas terbesar yang mencakup 90% dari seluruh jenis porifera.
Contoh Demospongiae adalah spongia, hippospongia dan Niphates digitalis.
Calcarea (Calcisspongiae)
Calcarea (dalam latin, calcare = kapur) atau Calcispongiae (dalam latin, calci = kapur, spongia = spons) memiliki rangka yang tersusun dari kalsium karbonat.Tubuhnya kebanyakan berwarna pucat dengan bentuk seperti vas bunga, dompet, kendi, atau silinder.Tinggi tubuh kurang dari 10 cm.Struktur tubuh ada yang memiliki saluran air askonoid, sikonoid, atau leukonoid.
Calcarea hidup di laut dangkal, contohnya sycon, Clathrina, dan Leucettusa lancifer.
Berikut bentuk tipe saluran air dari porifera : askonoid, sikonoid, dan leukonoid
Peran Porifera dalam Kehidupan Manusia
Beberapa jenis porifera seperti spongia dan hippospongia dapat digunakan sebagai spons mandi dan alat gosok.Namun, spons mandi yang banyak digunakan umumnya adalah spons buatan, bukan berasal dari kerangka porifera.Zat kimia yang dikeluarkannya memiliki potensi obat penyakit kanker dan penyakit lainnya.
Ciri Tubuh
Ciri tubuh Porifera meliputi ukuran, bentuk, struktur dan fungsi tubuh.
Ukuran dan bentuk
Ukuran porifera sangat beragam.Beberapa jenis porifera ada yang berukuran sebesar butiran beras,
sedangkan jenis yang lainnya bisa memiliki tinggi dan diameter hingga 2 meter.
Tubuh porifera pada umumnya asimetris atau tidak beraturan meskipun ada yang simetris radial.
Bentuknya ada yang seperti tabung, vas bunga, mangkuk, atau bercabang seperti tumbuhan.
Tubuhnya memiliki lubang-lubang kecil atau pori(ostium).Warna tubuh bervariasi, ada yang berwarna pucat,
dan ada yang berwarna cerah, seperti merah, jingga, kuning bahkan ungu.
Struktur dan fungsi tubuh
Tubuh porifera belum membentuk jaringan dan organ sehingga porifera dikelompokkan dalam protozoa.
Permukaan luar tubuhnya tersusun dari sel-sel berbentuk pipih dan berdiding tebal yang disebut pinakosit.
Pinakosit berfungsi sebagai pelindung.Diantara pinakosit terdapat pori-pori yang membentuk saluran air yang bermuara di spongosol atau rongga tubuh.Spongosol dilapisi oleh sel “berleher” yang memiliki flagelum, yang disebut koanosit.Flagelum yang bergerak pada koanosit berfungsi untuk membentuk aliran air saru arah sehingga air yang mengandung makanan dan oksigen masuk melalui pori ke spongosol.Di spongosol makanan ditelan secara fagositosis dan oksigen diserap secara difusi oleh koanosit.Sisa pembuangan dikeluarkan melalui lubang yang disebut oskulum.
Zat makanan dan oksigen selalin digunakan oleh koanosit, sebagian juga ditransfer secara difusi ke sel-sel yang selalu bergerak seperti amoeba, yaitu amoebosit (sel amoeboid).Fungsinya pun sama yaitu mengedarkan makan dan oksigen keseluruh sel-sel tubuh lainnya.
Cara hidup dan Habitat
Porifera hidup secara heterotof.Makananya adalah bakteri dan plankton.Makanan yang masuk kedalam tubuhnya berbentuk cairan.Pencernaan dilakukan secara intraseluler di dalam koanosit dan amoebosit.Habitat porifera umumnya di laut, mulai dari tepi pantai hingga laut dengan kedalaman 5 km.Sekitar 150 jenis porifera hidup di ait tawar, misalnya Haliciona dari kelas Demospongia.Porifera yang telah dewasa tidak dapat berpindah tempat (sesil), hidupnya menempel pada batu atau benda lainya di dasar laut.Karena porifera yang bercirikan tidak dapat berpindah tempat, kadang porifera dianggap sebagai tumbuhan.
Reproduksi
Porifera melakukan reproduksi secara aseksual maupun seksual.Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan tunas dan gemmule.Gemmule disebut juga tunas internal.Gemmule dihasilkan hanya menjelang musim dingin di dalam tubuh porifera yang hidup di air tawar.Porifera dapat membentuk individu baru dengan regenerasi.Reproduksi seksual dilakukan dengan pembentukan gamet (antara sperma dan ovum).Ovum dan sperma dihasilkan oleh koanosit.Sebagian besar Porifera menghasilkan ovum dan juga sperma pada individu yang sama sehingga porifera bersifat Hemafrodit.
Klasifikasi porifera
Berdasarkan bahan penyusun rangkanya, porifera diklasifikasikan menjadi tiga kelas, yaitu Hexactinellida atau Hyalospongiae, Demospongiae, dan Calcarea (Calcisspongiae).
Hexactinellida (Hyalospongiae)
Hexactinellida (dalam bahasa yunani, hexa = enam) atau Hyalospongiae (dalam bahasa yunani, hyalo = kaca/transparan, spongia = spons) memiliki spikula yang tersusun dari silika.Ujung spikula berjumlah enam seperti bintang.Tubuhnya kebanyakan berwarna pucat dengan bentuk vas bunga atau mangkuk.Tinggi tubuhnya rata-rata 10-30 cm dengan saluran tipe sikonoid.Hewan ini hidup soliter di laut pada kedalaman 200 – 1.000 m.Contoh Hexactinellida adalah Euplectella.
Demospongiae
Demospongiae ( dalam bahasa yunani, demo = tebal, spongia = spons) memiliki rangka yang tersusun dari serabut spongin.
Tubuhnya berwarna cerah karena mengandung pigmen yang terdapat pada amoebosit.Fungsi warna diduga untuk melindungi tubuhnya dari sinar matahari.Bentuk tubuhnya tidak beraturan dan bercabang.Tinggi dan diameternya ada yang mencapai lebih dari 1 meter.Seluruh Demospongiae memiliki saluran air tipe Leukonoid.Habitat Demospongiae umumnya di laut dalam maupun dangkal, meskipun ada yang di air tawar.Demospongiae adalah satu-satunya kelompok porifera yang anggotanya ada yang hidup di air tawar.Demospongiae merupakan kelas terbesar yang mencakup 90% dari seluruh jenis porifera.
Contoh Demospongiae adalah spongia, hippospongia dan Niphates digitalis.
Calcarea (Calcisspongiae)
Calcarea (dalam latin, calcare = kapur) atau Calcispongiae (dalam latin, calci = kapur, spongia = spons) memiliki rangka yang tersusun dari kalsium karbonat.Tubuhnya kebanyakan berwarna pucat dengan bentuk seperti vas bunga, dompet, kendi, atau silinder.Tinggi tubuh kurang dari 10 cm.Struktur tubuh ada yang memiliki saluran air askonoid, sikonoid, atau leukonoid.
Calcarea hidup di laut dangkal, contohnya sycon, Clathrina, dan Leucettusa lancifer.
Berikut bentuk tipe saluran air dari porifera : askonoid, sikonoid, dan leukonoid
Peran Porifera dalam Kehidupan Manusia
Beberapa jenis porifera seperti spongia dan hippospongia dapat digunakan sebagai spons mandi dan alat gosok.Namun, spons mandi yang banyak digunakan umumnya adalah spons buatan, bukan berasal dari kerangka porifera.Zat kimia yang dikeluarkannya memiliki potensi obat penyakit kanker dan penyakit lainnya.
Sabtu, 01 September 2012
Teknik pengawetan dengan penggaraman
Teknik pengawetan dengan penggaraman
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengawetan ikan
dengan cara penggaraman sebenarnya terdiri dari dua proses yaitu, proses
penggaraman dan proses pengeringan. Proses penggaraman dilakukan untuk
menghambat aktivitas mikroorganisme dan enzim perusak daging ikan. Hasil akhir
dari pengawetan dengan proses penggaraman ini adalah ikan asin. Secara umum
prinsip penggaraman ini adalah meresapnya garam yang ditaburkan keseluruh tubuh
ikan secara lambat namun pasti, sehingga terjadi tekanan osmosis yang seimbang
antara caiaran yang terdapat didalam dan diluar tubuh ikan. Larutan garam yang
diluar tubuh ikan akan menyebabkan air yang berada dalam tubuh ikan terus
keluar sehingga makin lama sisa-sisa cairan yang berada dalam tubuh ikan
menjadi maikn kental dan kadar proteinnya menggumpal serta ses-sel daging ikan
menjadi mengkerut.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi kecepatan penetrasi garam kedalma tubuh ikan yaitu, tingkat
kemurnian garam, ketebalan daing ikan, kesegaran ikan, temperature ikan, dan
konsentrasi larutan garam. Yang melatarbelakangi dilaksanakannya praktikum
mengenai pengawtan dengan penggaraman ikan asin yaitu untuk memperpanjang daya
tahan dan daya simpan ikan. Jadi pada dasarnya penggaraman dilakukan untuk
mengurangi kadar air dalam daging ikan sampai ttik tertentu sehingga bakteri
yang terdapat dalam daging ikan menjadi mati.
Metode penggaram
dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu penggaramna kering (dry salting),
penggaraman basah (wet salting), dan kench salting. Pada penggaram kering dapat
digunakan untuk ikan yang berukuran besar atau kecil. Penggaraman menggunakan
garam berbentuk Kristal, ikan yang akan diolah ditaburi garam lalu disusun
berlapis-lapis. Setiap lapisan ikan diselingi lapisan garam. Selanjutnya
lapisan garam akan menyerap keluar cairan didalam tubuh ikan, sehingga Kristal
garam berubah menjadi larutan garam yang dapat merendam seluruh lapisan ikan.
Untuk menggaraman basah digunakan larutan garam sebagai media untuk merendam
ikan. Larutan garam akan mengisap cairan tubuh ikan (sehingga konsentrasinya
menurun ) dan ion-ion garam akan segera masuk kedalam tubuh ikan. Sedangkan
metode kench salting hamper sama dengan penggaraman kering. Bedanya pada kench
salting menggunakan bak kedap air dan ikan hanya ditumpuk menggunakan
keranjang.
1.2 Tujuan Praktikum
Pada praktikum yang telah dilaksanakan mengenai
teknik mengenai pengawetan dengan penggaraman ikan asin bertujuan untuk:
© Mempelajari
dan mempraktekkan teknik pengawetan ikan dengan metode penggaraman.
© Membedakan
kondisi ikan yang digarami dengan tidak digarami.
© Melihat
masa simpan atau daya awet ikan yang diagram.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Deskripsi Ikan Nila (Oreochromis
niloticus)
Ikan Nila adalah
sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika pada tahun
1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar
dan di beberapa waduk di Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan
dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia. Ikan nila adalah
sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika pada tahun
1969 dna kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar dan
dibeberapa waduk di Indonesia.
Nama ilmiah pada ikan Nila adalah
Oreochromis Niliticus, dan di dalam Bahasa Inggris ikan ini dikenal dengan
sebutan Nile Tilapia. Keramba jala apung untuk memelihara ikan Nila di Ranu
Pakis, Klakah, Lumajang. Ikan pemeliharaan yang berukuran sedang, panjang total
(moncong hingga ujung ekor) mencapai sekitar 30 cm. Sirip punggung (dorsal)
dengan 16-17 (tajam) dan 11-15 jari-jari (duri lunak); dan sirip dubur (anal)
dengan 3 duri dan 8-11 cm jari-jari
Ikan Nila termasuk kelompok ikan tilapial (Trewavas, 1982). Dalam penelitian ini digunakan ikan nila hitam varietas GIFT (Genetic Improvements for Farmers Tilapia) ikan nila ini banyak dibudidayakan di berbagai daerah, selain itu mempunyai kemampuan beradaptasi yang baik diberbagai jenis air, contohnya hidup di air tawar, air payau, dan air laut. Ikan ini juga tahan terhadap perubahan lingkungan, bersifat omnivora dan mampu mencerna makanan secara efisien. Pertumbuhannya cepat dan tahan terhadap serangan penyakit. Ikan ini memiliki kebiasaan yang unik setelah memijah.
Ikan Nila termasuk kelompok ikan tilapial (Trewavas, 1982). Dalam penelitian ini digunakan ikan nila hitam varietas GIFT (Genetic Improvements for Farmers Tilapia) ikan nila ini banyak dibudidayakan di berbagai daerah, selain itu mempunyai kemampuan beradaptasi yang baik diberbagai jenis air, contohnya hidup di air tawar, air payau, dan air laut. Ikan ini juga tahan terhadap perubahan lingkungan, bersifat omnivora dan mampu mencerna makanan secara efisien. Pertumbuhannya cepat dan tahan terhadap serangan penyakit. Ikan ini memiliki kebiasaan yang unik setelah memijah.
Klasifikasi ikan Nila adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleosin
Ordo : Percormorphii
Sub Ordo : Percoidae
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis Niloticus
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleosin
Ordo : Percormorphii
Sub Ordo : Percoidae
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis Niloticus
Morfologi dan Anantomi
Morfologi
Morfologi ikan nila yaitu memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah bertikal (kompres) dengan profil empat persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembuhkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas ikan nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membuat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah tipe ctenoid. Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, begitu pun bagian analnya.
Morfologi ikan nila yaitu memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah bertikal (kompres) dengan profil empat persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembuhkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas ikan nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membuat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah tipe ctenoid. Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, begitu pun bagian analnya.
Dengan posisi sirip anal di belakang sirip
dada (abdorminal)
Ikan nila memiliki tulang kartilago kranium sempurna, organ pembau dan kapsul otik tergabung menjadi satu. Eksoskleton Ostracodermi mempunyai kesamaan dengan dentin pada kulit. Elasmobrachii yang merupakan mantel keras seperti email pada gigi vertebrata. Di bawah lapisan tersebut terdapat beberapa lapisan tulang sponge dan di bawahnya lagi terdapat tulang padat. Tulang palato-quadrat dan kartilago Meckel adalah tulang rawan yang akan membentuk rahang atas dan rahang bawah
Ikan nila memiliki tulang kartilago kranium sempurna, organ pembau dan kapsul otik tergabung menjadi satu. Eksoskleton Ostracodermi mempunyai kesamaan dengan dentin pada kulit. Elasmobrachii yang merupakan mantel keras seperti email pada gigi vertebrata. Di bawah lapisan tersebut terdapat beberapa lapisan tulang sponge dan di bawahnya lagi terdapat tulang padat. Tulang palato-quadrat dan kartilago Meckel adalah tulang rawan yang akan membentuk rahang atas dan rahang bawah
Anatomi
Organ-organ internal ikan adalah jantung, alat-alat pencerna, gonad, kandung kemih, dan ginjal. Alat pencernanya terdiri atas aesopaghus, perut besar, usus halus, pankreas, dan hati. Organ-organ tersebut biasanya diselubungi oleh jaringan pengikat yang halus dan lunak yang disebut peritoneum. Peritoneum merupakan selaput (membran) yang tipis berwarna hitam yang biasanya dibuang jika ikan sedang disiangi
Organ-organ internal ikan adalah jantung, alat-alat pencerna, gonad, kandung kemih, dan ginjal. Alat pencernanya terdiri atas aesopaghus, perut besar, usus halus, pankreas, dan hati. Organ-organ tersebut biasanya diselubungi oleh jaringan pengikat yang halus dan lunak yang disebut peritoneum. Peritoneum merupakan selaput (membran) yang tipis berwarna hitam yang biasanya dibuang jika ikan sedang disiangi
Bentuk badan ikan nila adalah pipih
kesamping memanjang. Mempunyai garis vertikal 9-11 buah, garis-garis pada sirip
ekor berwarna hitam sejumlah 6-12 buah. Pada sirip punggung terdapat
garis-garis miring. Linea literalisnya terputus jadi dua bagian dan dilanjutnya
dengan garis yang terletak di bawah. Letak linea literalis memanjang di atas
sirip dada. Jumlah sisik pada garis rusuk 39 buah. Tipe sisik ctenoid. Bentuk
sirip ekor perpinggiran tegak
Sistem
Pencernaan
Kanal alimentari memanjang dari rongga mulut sampai
tenggorokan melalui oesophagus, perut besar, usus halus, dan berakhir pada
anus. Dinding oesophagus perut besar dan usus halus dibentuk oleh benang-benang
otot yang halus yang merupakan jaringan pengikat yang lentur. Bagian dalam
perut besar dan usus halus terdapat halus terdapat selaput sepalut yang
mengandung kelenjar-kelenjar keal yang mengeluarkan cairan pencerna.
Kelenjar-kelenjar pada perut besar mengeluarkan cairan yang bersifat asam, yang
banyak mengandung pepsin dan asam klorida. Sementara kelenjar yang terdapat
pada usus halus mengeluarkan cairan yang bersifat alkalis yang benyak
mengandung enterokinase yaitu sejenis enzim.
Pada bagian luar usus halus tersimpan
enzim-enzim yang berasal dari hati yang yaitu tripsin dan yang berasal dari
pankreas yaitu lipase, dan di samping itu juga tersimpan enzim amilase. Pada
beberapa ikan tidak dijumpai adanya perut besar, sehingga fungsinya digantikan
usus halusnya, misal pada ikan karper
Sistem pencernaan pada vertebrata termasuk ikan teridiri atas dua bagian besar yaitu saluran pencernaan dan kelenjar pencarnaan. Saluran pencernaan dimulai dari rongga mulut, faring, esofagus hanya pendek, lambung, usus, dan anus.
Sistem pencernaan pada vertebrata termasuk ikan teridiri atas dua bagian besar yaitu saluran pencernaan dan kelenjar pencarnaan. Saluran pencernaan dimulai dari rongga mulut, faring, esofagus hanya pendek, lambung, usus, dan anus.
Kelenjar pencernaan umumnya berupa
kelenjar mukosa, hati, dan pankreas. Oleh sebab itu ikan hidup di air maka
tidak memerlukan banyak kelenjar mulut untuk membasahi makanannya, namun masih
ada beberapa kelenjar mukosa. Esofagus ikan biasanya sangat pendek
Sistem Ekskresi
Tubuh ikan air tawar lebih hipertonis dari
lingkungannya sehingga air banyak yang masuk lewat permukaan tubuhnya,
akibatnya ikan ini sedikit minum air. Dan urin yang dihasilkan banyak dan
encer. Untuk mendapatkan air dan garam dari makanan, air masuk secara osmosis
lewat permukaan tubuhnya
Konsentrasi larutan dalam tubuh
lebih besar dengan yang ada di lingkungan supaya mencegah masuknya air dan
kehilangan garam agar tidak minum, kulit diliputi mucus, osmosis melalui
insang, produksi urin encer, pompa garam melalui sel-sel khusus pada insang
Sistem
Reproduksi
Pada ikan betina mempunyai indung telur sedangkan ikan
jantan mempunyai testis. Baik indung telur maupun testis ikan semuanya terletak
pada rongga perut di sebelah kandung kemih dam kanal alimentari. Keadaan gonad
ikan sangat menentukan kedewasaan ikan. Kedewasaan ikan meningkat dengan makin
meningkatnya fungsi gonad
Ikan Nila umumnya mempunyai sepasang
gonad, terletak pada bagian posterior rongga perut di sebelah bawah ginjal.
Pada saat ikan nila bertelur dan sperma dikeluarkan oleh ikan jantan, pada saat
itu pula terjadilah fertilasi di luar tubuh induknya (eksternal) yaitu di dalam
air tempat dimana ikan itu berada, kemudian mengerami telur di dalam mulutnya
antara 4-5 hari dan telur tersebut menetas 3-4 hari. Telur ikan yang dibuahi
dan menetas dinamakan larva. Larva tersebut mempunyai kuning telur yang masih
menempel pada tubuhnya digunakan sebagai cadangan makanan untuk awal
kehidupannya
Jenis, Bagian dan Fungsi Sisik Sisik
ikan terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan luar tipis merupakan epidermis
dibentuk oleh sel-sel epithelial. Pada epidermis diketemukan kelenjar-kelenjar
yang dapat mengeluarkan lendir. Lapisan di bawahnya adalah dermis, kutin, dan
klorium. Sisik ikan terbentuk dari lempeng-lempeng tulang rawan yang lentur dan
saling tumpang tindih
Ada empat jenis tipe sisik, yaitu
plakoid, ganoid, sikloid, dan stenoid. Sisik ganoid berbentuk rhombis, pada
permukaannya terdapat lapisan dentin yang disebut ganoin.Ada beberapa lapisan
denti yang dikenal, yaitu:
1. Sisik kosmoid merupakan sisik ikan ada bangsa
Crossopterygi yang telah punah
2. Sisik ganoid
3. Sisik Planoid
4. Sisik Leptoid
Bentuk badan ikan nila adalah pipih
kesamping memanjang. Mempunyai garis vertikal 5-11 buah, garis-garis pada sirip
ekor berwarna hitam sejumlah 6-12 buah. Pada sirip punggung terdapat
garis-garis miring. Linea literalisnya terputus jadi dua bagian dan dilanjutnya
dengan garis yang terletak dibawahnya. Letak linea literalis memanjang di atas
sirip dada. Jumlah sisik pada garis rusuk 5 buah. Tipe sisik adalah etenoid.
Bentuk ekor berpinggiran tegak
2.2 Deskripsi Ikan Kembung
Gambar.
Ikan Kembung (Rastrelliger kanagurta)
Jenis: Vertebrata (ikan) Golongan:
Hewan air Nama ilmiah: Rastrelliger kanagurta Nama asing: indian
mackerel Nama lokal: ikan kembung Family: Scombridae Ordo: Percomorphi Class: Pisces Morfologi:
Morfologinya Ikan Kembung ditutupi
oleh sisik yang berukuran kecil dan tudak mudah lepas, dengan Sisik garis rusuk
120-150. Ciri khas ikan ini mempunyai saringan insang panjang dan banyak yang
tampak bila mulutnya dibuka. Deretan saringan insang ini menjadikan mulut ikan
kembung seperti penuh dengan bulu – bulu. Sirip punggung pertama berjari-jari
keras 10, sedang sirip punggung kedua berjari-jari lemah 11-12. Sirip dubur
berjari-jari lemah 11-12.
Di belakang sirip punggung terdapat
5-6 jari-jari sirip lepas (finlet). Panjang umumnya 20-25 cm tapi maksimal
dapat mencapai 35 cm. Warna biru kehijauan bagian atas, putih kekuningan bagian
bawah. Dua baris totol-totol hitam pada punggung, dan satu totol hitam dekat
sirip dada. Suatu ban warna gelap memanjang di bagian atas garis rusuk, dan 2
ban warna keemasan di bawah garis rusuk. Sirip punggung abu-abu kekuningan,
sedang sirip ekor dan dada agak kekuningan, yang lainnya bening kekuningan.
Biologi: Biologinya Ikan kembung merupakan ikan
pelagis yang umumnya hidup bergerombol di lapisan permukaan yang memiliki sifat
plankton feeder. Bentuk tubuh torpedo, terdapat selaput lemak pada kelopak
mata. Tapis insang panjang dan tampak jelas saat mulut terbuka. Ikan kembung
memakan plankton, karena ikan ini mempunyai saringan yang panjang dan dari
hasil pemeriksaan isi perutnya, plankton merupakan makanan paling utama untuk
ikan kembung walaupun terkadang didalam perutnya terdapat komponen lain selain
plankton. Biologinya jenis kelamin ikan kembung tidak dapat dibedakan hanya
dengan melihat bentuk morfologi luar. Karena itu perlu dilakukan pembedahan
bagian perut dan bentuk gonadnya diperiksa. Pada umumnya gonad ikan kembung
terdiri dari 2 bagian yang tidak sama besarnya. Dengan mata sahaja tidak semua
ikan kembung dapat ditentukan jenis kelaminnya. Ikan jantan dapat ditentukan
jenis kelaminnya dengan melihat bentuk gonad yang pipih dan berwarna putih,
sedangkan gonad ikan betina berbentuk bulat panjng dan berwarna merah atau
kuning. Ikan-ikan muda biasanya diidentifikasi jenis kelaminnya dengan
mikroskop. Ekologi: Jenis ikan yang suka hidup bergerombol.
Ikan kembung merupakan ikan pelagis yang memakan
plankton halus. Ikan kembung biasanya hidup lebih mendekati pantai dan
membentuk gerombolan besar. Daerah penyebarannya di perairan pantai Indonesia
dengan konsentrasi terbesar di Kalimantan, Sumatera Barat, Laut Jawa dan Selat
Malaka. Hidup di peraiaran pantai atau oseanis.dan tersebar di Indo-Pasifik
barat. Ikan kembung cenderung berenang mendekati permukaan air pada waktu malam
hari dan pada siang hari turun ke lapisan yang lebih dalam. Gerakan vertikal
ini dipengaruhi oleh gerakan harian plankton dan mengikuti perubahan suhu,
faktor hidrografis dan salinitas. Ukuran: Ikan kembung ini memiliki finlet
berjumlah 5-7, ukuran tubuhnya mencapai 15-35 cm.
2.3
Teknik Pengawetam dengan Penggaraman
Hasil akhir dari pengawetan denganproses penggaraman adalah ikan asin, yaitu
ikan yang telah mengalami prosespenggaraman dan pengeringan. Dalam skala
nasional, ikan asin merupakan salah satu produk perikanan yang mempunyai
kedudukan penting, hampir 65% produk perikanan masih diolah dan diawetkan
dengan cara penggaraman. Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila ikan
asin termasuk dalam sembilan bahan pokok penting bagi kebutuhan masyarakat.
Adanya perbedaan tingkat pengetahuan yang terjadi di kalangan nelayan maupun
petani ikan mengenai proses penggaraman menyebabkan mutu ikan asin yang
dihasilkan mempunyai kualitas berlainan.Meskipun memiliki nilai gizi yang
tinggi, ikan asin sering dianggap sebagai makanan masyarakat golongan lemah.
Tetapi saat ini ikan asin telah diterima oleh masyarakat golongan ekonomi
menengah ke atas. Bahkan produk-produk ikan asin tertentu dapat dikategorikan
sebagai makanan mewah.
a. Prinsip Penggaraman Ikan
Penggaraman merupakan proses pengawetan yang banyak dilakukan di
berbagai negara, termasuk Indonesia. Proses tersebut menggunakan garam sebagai
media pengawet, baik yang berbentuk kristal maupun larutan. Selama proses
penggaraman, terjadi penetrasi garam ke dalam tubuh ikan dan keluarnya cairan
dari tubuh ikan karena perbedaan konsentrasi. Cairan itu dengan cepat
dapatmelarutkan kristal garamatau mengencerkanlarutan garam.
Bersamaan dengan keluarnya cairan daridalam tubuh ikan, partikel
garam akan memasuki tubuh ikan. Lama kelamaan kecepatan
proses pertukaran garam dan cairan semakin lambat dengan menurunnya
konsentrasi garam di luar tubuh ikan dan
meningkatnya
konsentrasi garam di dalam tubuh ikan. Bahkan pertukaran garam dan
cairan tersebut
berhenti sama sekali setelah terjadi keseimbangan. Proses itumengakibatkan
pengentalan cairan tubuh yang masih tersisa dan penggumpalan protein
(denaturasi serta pengerutan sel-sel tubuh ikan sehingga sifat dagingnya
berubah).Selama proses penggaraman berlangsung terjadi penetrasi garam ke dalam
tubuh ikan dan keluarnya cairan dari tubuh ikan karena adanya perbedaan
konsentrasi. Cairan tersebut dengan cepat akan melarutkan kristal garam atau
mengencerkan larutan garam. Bersamaan dengan keluarnya cairan dari dalam tubuh
ikan, partikel garam pun masuk ke dalam tubuh ikan. Ikan yang telah mengalami
proses penggaraman, sesuai dengan prinsip yang berlaku, akan mempunyai daya
simpan tinggi karena garam dapat berfungsi menghambat atau menghentikan reaksi
autolisis danmembunuh bakteri yang terdapat di dalam tubuh ikan. Cara kerja
garam di dalam menjalankan fungsi kedua sebagai berikut. Garam menyerap cairan
tubuh ikan, selain itu garam juga menyerap cairan tubuh bakteri sehingga proses
metabolisme bakteri terganggu karena kekurangan cairan, akhirnya bakteri
mengalami kekeringan dan mati.
Garam pada dasarnya tidak bersifat membunuh mikroorganisme
(germisida). Konsentrasi garam rendah (1 – 3%), justru garam membantu
pertumbuhan bakteri halofilik. Garam yang berasal dari tempat-tempat pembuatan
garam di pantai mengandung cukup banyak bakteri halofilik yang dapat merusak
ikan kering. Beberapa jenis bakteri dapat tumbuh pada larutan garam
berkonsentrasi tinggi, misalnya red halofilic bacteria yang menyebabkan warna merah pada ikan. Selain mengakibatkan
terjadinya proses osmosis pada sel-sel mikroorganisme sehingga terjadi
plasmolisis. Kadar air dalam sel bakteri terekstraksi, sehingga menyebabkan
kematian bakteri. Penggaraman ikan biasanya diikuti dengan pengeringan untuk
menurunkan kadar air dalam daging ikan. Dengan demikian, pertumbuhan bakteri
semakin terhambat.
b. Metode Penggaraman
Penggaraman merupakan cara pengawetan yang sudah lama dilakukan
orang. Pada proses penggaraman, pengawetan dilakukan dengan cara mengurangi
kadar air dalam badan ikan sampai titik tertentu sehingga bakteri tidak dapat
hidup dan berkembang lagi. Pengawetan ikan dengan cara penggaraman terdiri dari
dua proses, yaitu proses penggaraman dan proses pengeringan. Adapun tujuan
utama dari penggaraman sama dengan tujuan pengawetan dan pengolahan lainnya,
yaitu untuk memperpanjang daya tahan dan daya simpan ikan. Ikan yang mengalami
proses penggaraman menjadi awet karena garam dapat menghambat atau lainnya,
yaitu untuk memperpanjang daya tahan dan daya simpan ikan. Ikan yang mengalami
proses penggaraman menjadi awet karena garam dapat menghambat atau membunuh
bakteri penyebab kebusukan pada ikan.
Garam merupakan faktor utama dalam
proses penggaraman ikan. Sebagai bahan pengawet, kemurnian garam sangat
mempengaruhi mutu ikan yang dihasilkan.
Garam juga
merupakan bahan pembantu yang sengaja ditambahkan atau diberikan dengan tujuan
untuk meningkatkan konsistensi, nilai gizi, cita rasa, mengendalikan keasaman
dan kebasaan, serta dapat memantapkan bentuk
dan rupa.
Secara umum garam terdiri atas
39,39% Na dan 60,69% Cl, bentuk kristal seperti kubus dan berwarna putih. Di
dalam pengolahan ikan asin, biasanya garam diperuntukkan sebagai pengawet dan
pemberi rasa. Sebagai bahanpengawet, garam mempunyai tekanan osmosis yang
tinggi sehingga dapat mengakibatkan terjadinya peristiwa osmosis dengan daging
ikan.
Kecepatan penetrasi garam ke
dalamtubuh ikan dipengaruhi oleh tingkat kemurnian garam. Garam yang baik
adalah garam yang mengandung NaCl cukup tinggi (95%) dan sedikit mengandung
elemen magnesium (Mg) maupun kalsium (Ca). Elemen tersebut mempengaruhi mutu
ikan asin yang dihasilkan karena :
1. Dapat memperlambat penetrasi garam ke dalam
tubuh ikan sehingga terjadi proses
pembusukan sebelum proses penggaraman berakhir.
2. Dapat menyebabkan ikan menjadi higroskopis
sehingga sering menimbulkan
masalah dalam penyimpanan.
3. Garam yang mengandung CaSO4 sebanyak
0,5-1,0% menyebabkan ikan asin
yang dihasilkan mempunyai daging yang putih, kaku, dan agak pahit.
4. Garam yang mengandung MgCl atau MgSO4 akan
menghasilkan ikan asin yang
agak pahit.
5. Garam yang mengandung Fe dan Cu dapat
mengakibatkan ikan asin berwarna
kuning atau coklat kotor.
Produk yang dihasilkan dari proses
penggaraman terdiri atas bermacam-macam tergantung proses selanjutnya.
Misalnya, setelah dilakukan penggaraman dilanjutkan dengan pengeringan, maka
hasilnya adalah ikan kering. Apabila dilanjutkan dengan perebusan maka
menghasilkan ikan pindang
atau cue, dan
bila diteruskan dengan proses fermentasi diperoleh beberapa produk
fermentasi
seperti peda, terasi, kecap, bekasem, dan wadi.
Pada dasarnya metode penggaraman
ikan dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu penggaraman kering,
penggaraman basah, dan penggaraman campuran.
- Penggaraman Kering (Dry Salting)
Metode penggaraman kering menggunaka
kristal garam yang dicampurkan dengan ikan. Pada umumnya ikan-ikan yang besar
dibuang isi perutnya terlebih dahulu dan bila perlu dibelah agar dagingnya
menjadi tipis
sehingga lebih
mudah untuk ditembus oleh garam. Pada proses penggaraman, ikan ditempatkan di
dalam wadah yang kedap air, misalnya bak dari kayu atau dari bata yang disemen.
Ikan disusun selapis demi selapis di dalam wadah, diselingi dengan lapisan
garam. Jumlah garam yang dipakai umumnya 10-35% dari berat ikan.
- Penggaraman Basah (Wet Salting)
Penggaraman basah menggunakan
larutan garam 30-50% (setiap 100 liter larutan garam berisi 30-50 kg garam).
Ikan dimasukkan ke dalam larutan itu dan diberi pemberat agar semua ikan
terendam, tidak ada yang terapung. Ikan direndam dalam jangka waktu tertentu
tergantung pada :
a. Ukuran dan
tebal ikan
b. Derajat
keasinan yang diinginkan
Di
dalam proses osmosis, kepekatan makin lama makin berkurang karena air dari
dalam daging ikan secara berangsur-angsur masuk ke dalam larutan garam,
sementara
sebagian
molekul garam masuk ke dalam daging ikan. Karena kecenderungan
penurunan
kepekatan larutan garam itu, maka proses osmosis akan semakin lambat
dan
pada akhirnya berhenti. Larutan garam yang lewat jenuh yaitu jumlah garam lebih
banyak dari jumlah yang dapat dilarutkan sehingga dapat dipergunakan untuk
memperlambat kecendrungan itu.
- Penggaraman Campuran (Kench Salting)
Penggaraman kench pada dasarnya adalah penggaraman kering,
tetapi tidak
menggunakan
bak. Ikan dicampur dengan kristal garam seperti pada penggaraman
kering
di atas lantai atau di atas geladak kapal. Larutan garam yang terbentuk
dibiarkan mengalir dan terbuang. Cara tersebut tidak memerlukan bak, tetapi
memerlukan lebih banyak garam untuk mengimbangi larutan garam yang mengalir
dan
terbuang. Proses penggaraman kench lebih lambat. Oleh karena itu, pada udara
yang
panas seperti di Indonesia, penggaraman kench kurang cocok karena pembusukan
dapat terjadi selama penggaraman.
Penggaraman kering mampu memberikanhasil yang terbaik,
karena daging ikan asin yang dihasilkan lebih padat. Pada penggaraman basah,
banyak sisik-sisik ikan yang terlepas dan menempel pada ikan sehingga
menjadikan ikan tersebut kurang menarik. Selain itu dagingnya kurang padat. Menurut
Poulter (1988), dikelompokkan penggaraman ikan atas tiga cara, yaitu :
a.
Kenc Curing, kristal garam dilumuri pada tubuh
ikan, kemudian ikan ditumpuk dilantai sehingga molekul garam menembus ke dalam
daging ikan dan air yang terekstraksi dari sel-sel daging ikan akan mengalir.
b.
Pickling, sama dengan kench curing tetapi
penggaraman dilakukan dalam suatu wadah, sehingga air yang terekstraksi akan
merendam daging ikan.
c.
Brining, garam dilarutkan dalam air dengan
konsentrasi yang tinggi (25%) kemudian ikan dimasukkan ke dalam larutan garam
tersebut.
Proses penggaraman berlangsung lebihcepat pada suhu yang
lebih tinggi, tetapi proses-proses lain termasuk pembusukan juga berjalan lebih
cepat. Di negara dingin, penggaraman dilakukan pada suhu rendah, dan ternyata
hasil keseluruhannya lebih baik daripada yang dilakukan pada suhu tinggi.
Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki suhu panas, sebaiknya
penggaraman dilakukan di tempat yang teduh.
Daya awet ikan yang digarami beragam tergantung pada jumlah
garam yang dipakai. Semakin banyak garam yang dipakai semakin panjang daya awet
ikan. Tetapi umumnya orang kurang suka ikan yang sangat asin. Menurut Moeljanto
(1992), beberapa factor yang mempengaruhi kecepatan penetrasi garam ke dalam
tubuh ikan, selain tingkat kemurnian garam yang digunakan, yaitu
sebagai
berikut :
1.
Kadar lemak ikan
Semakin tinggi kadar lemak yang terdapat di dalam tubuh ikan
semakin lambat proses penetrasi garam ke dalam tubuh ikan.
2.
Ketebalan daging ikan
Semakin tebal daging ikan semakin lambat proses penetrasi
garam dan semakin banyak pula jumlah garam yang diperlukan.
3.
Kesegaran ikan
Pada ikan yang memiliki kesegaran rendah, proses penetrasi
garam berlangsung lebih cepat karena ikan dengan tingkat kesegaran rendah
mempunyai tubuh yang relatif lunak, cairan tubuh tidak terikat dengan kuat dan
mudah terisap oleh larutan garam yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi.
Apabila ikan kurang segar, produk ikan asin yang dihasilkan akan terlalu asin
dan kaku.
4.
Temperatur ikan
Semakin
tinggi temperatur tubuh ikan semakin cepat pula proses penetrasi garam
ke
dalam tubuh ikan. Tetapi sangat disayangkan, bahwa hal tersebut diikuti oleh
perkembangan
bakteri yang juga semakin cepat. Oleh karena itu, sebelum dilakukan
proses
penggaraman sebaiknya ikan ditangani lebih dahulu dengan baik agar
sebagian
besar bakteri yang dikandung dapat dihilangkan.
5.
Konsentrasi larutan garam
Semakin
tinggi perbedaan konsentrasi antara garam dengan cairan yang terdapat
dalam
tubuh ikan, semakin cepat prosespenetrasi garam ke dalam tubuh ikan. Selain
itu,
proses penetrasi garam akan menjadi lebih cepat lagi apabila digunakan garam
kristal.
Semakin tinggi konsentrasi garam, semakin tinggi daya awet ikan tetapi ikan
menjadi
semakin asin dan kurang disukai.
c. Penyimpanan Ikan Asin
Kemasan yang diinginkan adalah kemasan yang dapat
mempertahankan kerenyahan produk lebih lama dan dapat memperlambat kerusakan
karena proses ketengikan. Beberapa kemasan yang dapat digunakan adalah film
(plastik) high density polietilen (HDPE) atau polipropilen (PP) yang dilapisi
dengan aluminium foil. Kemasan primer ini ditempatkan dalam kemasan sekunder
yang terbuat darikotak karton, kaleng atau wadah plastik rigid.
Pemilihan kemasan sekunder sangat tergantung pada produk
akhir dan target
pemasaran.
Untuk meningkatkan ketahanan produk kemasan terhadap tekanan mekanis, maka ke
dalam kemasan primer dapat diisi dengan gas inert, misalnya nitrogen, agar
kemasan lebih padat (menggembung) dan tahan terhadap tekanan mekanis. Setelah
kering, ikan-ikan kemudian disusun secara teratur di dalam peti atau keranjang
yang telah dilapisi kertas. Selanjutnya peti atau keranjang tersebut diletakkan
di dalam ruangan yang sejuk dan kering dengan ventilasi yang baik.
Peti atau keranjang yang berisi ikan asin hendaknya tidak
disimpan bersama-sama dengan bahan lain yang membahayakan kesehatan, seperti
pupuk tanaman, racun tikus, minyak tanah atau zat kimia lain yang dapat
membahayakan kesehatan. Jika suhu ruang penyimpanan dapat diatur hingga
berkisar antara 0–50C, daya awet ikan asin dapat mencapai enam bulan. Apabila
lingkungan tidak memenuhi syarat, maka produk ikan asin sering mengalami
kerusakan selama dalam penyimpanan.
Kualitas ikan dan kondisi ruang penyimpanan yang akan
digunakan perlu
mendapat
perhatian. Tingkat kesegaran ikan sangat berpengaruh terhadap jumlah bakteri.
Selain itu, cara penanganan, sanitasi, factor biologis, temperatur lingkungan,
alat pengangkutan ikan dan ruang penyimpanan harus mendapat perhatian pula
karena dapat mempengaruhi mutu ikan asin yang dihasilkan. Kerusakan pada ikan
asin dapat disebabkan oleh bakteri halofilik yang mampu mengubah tekstur maupun
rupa daging ikan. Bakteri itu dapat dibagi menjadi dua bagianyaitu :
i.
Fakultatif halofilik, yaitu bakteri yang dapat hidup
secara baik pada media dengan kandungan garam sebesar 2%.
ii.
Obligat halofilik, yaitu bakteri yang dapat hidup
secara baik pada lingkungan yang mengandung garam dengan konsentrasi lebih
besar dari 2%. Selain disebabkan oleh bakteri halofilik, kerusakan mikrobiologi
pada ikan asin juga dapat disebabkan oleh jamur, ragi dan beberapa serangga
dalam bentuk larva atau dewasa.
Beberapa kerusakan mikrobiologis yang biasa terjadi pada
ikan asin yaitu :
1.
Pink Spoilage
Kerusakan ini disebabkan oleh bakteri halofilik yang secara
perlahan-lahan berkembang biak dan membentuk pigmen berwarna kuning
kemerah-merahan. Bakteri tersebut dengan cepat akan menguraikan daging ikan dan
menimbulkan bau busuk dan tengik. Akibatnya daging akan menjadi lunak dan
berwarna keabu-abuan serta mudah lepas dari tulangnya. Jenis bakteripenyebab pink
spoilage yang paling
dominan
adalah Sarcina sp, Serratia, Salinaria dan Micrococci.
2.
Dun Spoilage
Kerusakan tersebut dikarenakan semacam jamur yang hidup
hanya pada permukaan daging ikan dan membentuk pigmen berwarna keabu-abuan.
Gejala yang terjadi biasanya pada ikan asin yang mempunyai kadar air di bawah
17%.
3. Rust Spoilage
Untuk mencegah terjadinya ketengikan pada ikan asin, garam
akan melepaskan senyawa karbonil. Jika bereaksi dengan asam amino, senyawa tersebut
akan menghasilkan senyawa cojlat keabu-abuan dengan bau tengik yang menyolok.
4. Saponifikasi
Kerusakan itu dikarenakan aktivitas bakteri anaerob yang
menghasilkan lendir berbau sangat busuk. Kerusakan tersebut sangat membahayakan
kesehatan manusia, karena tidak hanya terjadi pada permukaan tetapi juga
menyerang bagian dalam. Bakteri yang umum menimbulkan saponifikasi adalah Mycobacteria.
5. Taning
Kerusakan itu dikarenakan sejenis bakteri pembusuk tertentu
yang muncul karena
proses
penetrasi garam ke dalam daging ikan berlangsung sangat lambat atau
penyebarannya di dalam tubuh ikan kurang merata. Ciri-ciri ikan yang terserang
taning, timbulnya noda atau bercak merah sepanjang tulang punggung ikan dan
timbulnya bau yang sangat busuk. Serangan lalat ditimbulkan oleh sejenis larva
lalat
rumah,
terutama jenis Drosophila casei, telur tersebut dapat menetas pada
temperatur
200C
dan larvanya menyerang daging ikan.
Parasit yang sering menyerang ikan asin adalah Dermestidae.
Gejalanya berupa lubang-lubang pada ikan asin, karenanya parasit itu sering
disebut juga ”si pembuat lubang”. Setelah telur menetas menjadi larva, akan
menyerang daging ikan dengan cara membuat lubang. Akibat serangan itu akan
timbul bau yang sangat busuk dan daging ikan akan terurai menjadi serbuk. Jika
serangannya sangat hebat, ikan asin dapat habis dalam waktu satu minggu
sehingga yang tersisa hanya bagian tulang saja.
6. Salt Burn
Kerusakan itu terjadi karena penggunaan garam halus secara
berlebihan pada saat
proses
penggaraman. Apabila ikan asin dijemur, bagian luar akan kering sedangkan
bagian
dalam masih tetap basah. Penyebabnya adalah terjadinya penarikan air yang
sangat cepat pada tubuh bagian luar, sehingga sel tubuh ikan akan terkoagulasi
dan mengakibatkan proses difusi air dari sel-sel tubuh bagian dalam menjadi
terlambat.
7. Jamur
Kerusakan pada ikan asin dapat ditimbulkan oleh berbagai
jenis jamur seperti jamur Sporendonemia epizoum yang mengakibatkan
bercak-bercak pada daging ikan. Meskipun tidak berbahaya bagi kesehatan, kerusakan
yang ditimbulkan oleh jamur ini dapat menurunkan harga jual ikan asin.
2.4 Uji organoleptik
Uji
organoleptik atau uji indera atau uji sensori merupakan cara
pengujian dengan menggunakan indera manusia sebagai
alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap produk.
Pengujian organoleptik mempunyai peranan penting dalam
penerapan mutu. Pengujian
organoleptik dapat memberikan indikasi kebusukan, kemunduran mutu dan kerusakan
lainnya dari produk.
Penggunaan Indera
Dalam penilaian bahan pangan sifat
yang menentukan diterima atau tidak suatu produk adalah sifat indrawinya.
Penilaian indrawi ini ada enam tahap yaitu pertama menerima bahan, mengenali
bahan, mengadakan klarifikasi sifat-sifat bahan, mengingat kembali bahan yang
telah diamati, dan menguraikan kembali sifat indrawi produk tersebut.] Indra yang
digunakan dalam menilai sifat indrawi suatu produk adalah:
- Penglihatan yang berhubungan dengan warna kilap, viskositas, ukuran dan bentuk, volume kerapatan dan berat jenis, panjang lebar dan diameter serta bentuk bahan.
- Indra peraba yang berkaitan dengan struktur, tekstur dan konsistensi. Struktur merupakan sifat dari komponen penyusun, tekstur merupakan sensasi tekanan yang dapat diamati dengan mulut atau perabaan dengan jari, dan konsistensi merupakan tebal, tipis dan halus.
- Indra pembau, pembauan juga dapat digunakan sebagai suatu indikator terjadinya kerusakan pada produk, misalnya ada bau busuk yang menandakan produk tersebut telah mengalami kerusakan.
- Indra pengecap, dalam hal kepekaan rasa , maka rasa manis dapat dengan mudah dirasakan pada ujung lidah, rasa asin pada ujung dan pinggir lidah, rasa asam pada pinggir lidah dan rasa pahit pada bagian belakang lidah.
Tujuan Uji Organoleptik
Tujuan diadakannya uji organoleptik
terkait langsung dengan selera. Setiap orang di setiap daerah
memiliki kecenderungan selera tertentu sehingga produk yang akan dipasarkan
harus disesuaikan dengan selera masyarakat setempat.
Selain itu disesuaikan pula dengan target konsumen, apakah anak-anak atau orang dewasa. Tujuan uji organoleptik adalah
untuk[3]:
- pengembangan produk dan perluasan pasar
- pengawasan mutu --> bahan mentah, produk, dan komoditas
- perbaikan produk
- membandingkan produk sendiri dengan produk pesaing
BAB
III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Pada praktikum mengenai
pengawetan dengan penggraman ikan asin dilaksanakan pada pukul 10.30-selesai.
Pada hari/tanggal: Jumat, 28 Oktober 2011 yang bertempat dilaboratorium
pengolahan hasil perikanan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3.2
Alat dan Bahan Praktikim
Alat yang dibutuhkan
pada praktikum mengenai praktikum pengawetan dan penggaraman ikan asin di
antaranya: pisau, baskom atau nampan, dan lainnya.
Bahan yang di perlukan dalam praktikum pengawetan dan
penggaraman ikan di antaranya: ikan nila, ikan kembung dan garam.
3.3
Prosedur Kerja Praktikum
Pada pengawetan dan penggaraman ikan asin, ada beberapa
tahapan kerja diantaranya:
a. Penaganan
dan penyiangan ikan
Þ Sisik,insang,
dan isi perut ikan di buang untuk menghilangkan sebagian besar bakteri pembusuk
Þ Cucilah
ikan dengan air bersih agar semua kotoran yang masih melekat terutama bagian
perut dapat di bersihkan ( sebaiknnya pada air mengalir )
Þ Letakkan
ikan pada tempat yang bias airnya bias di tiriskan beberapa saat
Þ Setelah
agak kering ikan aakn di timbang untuk mengetahui jumlah garam yang di
perlukan.
b. Proses
penggaraman ( Penggaraman kering/Dry salting )
Þ Gosokkan
garam satu persatu keseluruh tubuh ikan baik bagian luar maupun baigian dalam,
sehingga semua terlumuri garam
Þ Taburkan
garam ke dasar bak setebal 3-5 ( setebal ikan ) tergantung jumlah ikan di olah
Þ Susun
dengan teratur ikan-ikan yang di olah di atas lapisan garam tadi. Ikan di susun
dengan bagian perut menghadap ke bawah agar tidak ada air yang menggenang pada
tubuh ikan. Usahakan ikan-ikan tersebut tidak saling bersentuhan, sehingga
penyusunan ikan tidak terlalu padat
Þ Selanjutnya
di atas lapisan ikan tersebut di taburkan lagi garam hingga seluruh permukaan
tubuh ikan tertutup garam, kemudian di susun lagi ikan di atas lapisan garam
tersebut. Demikianlah seterusnya hingga lapisan ikan dan garam tersebut
mencapai permukaan bak
Þ Pada
lapisan paling atas di tebarkan garam setebal 5 cm agar tidak di hinggapi lalat
Þ Tutuplah
bak tersebut dengan penutupnya dfan di beri pemberat agar proses penggaraman
berlangsung baik
Þ Adapun
lamanya penggaraman sekitar 2-3 hari untuk ikan-ikan besar, 24-36 jam untuk
ikan berukuran sedang, 12-24 jam untuk ikan berukuran kecil. Secara umum lama
penggaraman umum lama penggaraman ini sangat tergantung pada kebutuhan dan
besar kecilnya ikan
Þ Setelah
proses penggaraman selesai cucilah ikan-ikan tersebut dengan air bersih unutk
menghilangkan kemungkinan terdapatnya kotoran yang berasal dari garam
Þ Setelah
di cuci ikan di tiriskan hingga benar-benar kering
Þ Proses
selanjutnya tergantung pada kebutuhan,apakah hendak di awetkan dengan cara
pengeringan atau pengasapan.
Ikan di
bersihkan
Timbang berat ikan
Garami dengan
Perbandingan 1:3 (10-20%)
Inkubasi selama15 menit
Cuci bersih
Jemur selama 2-3 hari
Gambar. Diagram alit
teknik pngawetan dengan penggaraman ikan
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil (Terlampir)
4.2 Pembahasan
Pada
praktikum yang di gunakan pada teknik pengawetan dengan penggaraman ikan yang
telah di lakukan menggunakan ikan control sebanyak 2-3 ekor. Ikan-ikan control
hanya di siangi ( di buang sisik, insang, isi perut) dan di letakkan ) di atas
nampa plastic dan di tutupi dengan plastic. Selanjutnya di amati perubahannya
dan di bedakan dengan ikan yang di garami.
Pengamatan
di lakukan untuk mengetahui kondisi awal ikan, baik ikan yang akan di garami
maupun ikan control. Kondisi ikan setelah beberapa hari, baik ikan yang akan di
garami maupun ikan control. Setelah ikan busuktidak perlu di lakukan pengamatan
lebih lanjut pada hari berikunnya. Dan perhatikan kondisi ikan yang di garami
melalui pengamatan yang di lakukan dengan menentukkan parameter ikan yang di
garami mulai dari tekstur, aroma ( bau ) Rasa, dan dalam penampakkan ( warna,
lendir, dan kulit ) di lakukan pengamatan tidak hanya di lakukan pada kondisi
ikan yang akan di garami tetapi kondisi ikan control di lakukan pengamatan pada
hari berikunya, agak menghindari bau busuk pada ikan asin teknik penjemuran
harus di perhatikan.
Secara
umum prinsip penggaraman ini adalah meresapnya garam yang ditaburkan keseluruh
tubuh ikan secara lambat namun pasti, sehingga terjadi tekanan osmosis yang
seimbang antara caiaran yang terdapat didalam dan diluar tubuh ikan. Larutan
garam yang diluar tubuh ikan akan menyebabkan air yang berada dalam tubuh ikan
terus keluar sehingga makin lama sisa-sisa cairan yang berada dalam tubuh ikan
menjadi maikn kental dan kadar proteinnya menggumpal serta ses-sel daging ikan
menjadi mengkerut.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi kecepatan penetrasi garam kedalam tubuh ikan yaitu, tingkat
kemurnian garam, ketebalan daing ikan, kesegaran ikan, temperature ikan, dan
konsentrasi larutan garam.
Praktikum
yang telah di laksanakan menggunakan teknik penggaraman dengan meteode Penggaraman Kering (Dry Salting) yaitu
Metode penggaraman kering menggunaka kristal garam yang dicampurkn dengan
ikan. Pada umumnya ikan-ikan yang besar dibuang isi perutnya terlebih dahulu
dan bila perlu dibelah agar dagingnya menjadi tipis
sehingga lebih mudah untuk ditembus oleh
garam. Pada proses penggaraman, ikan ditempatkan di dalam wadah yang kedap air,
misalnya bak dari kayu atau dari bata yang disemen. Ikan disusun selapis demi
selapis di dalam wadah, diselingi dengan lapisan garam. Jumlah garam yang
dipakai umumnya 10-35% dari
Proses penggaraman dilakukan untuk menghambat
aktivitas mikroorganisme dan enzim perusak daging ikan. Hasil akhir dari
pengawetan dengan proses penggaraman ini adalah ikan asin. Secara umum prinsip
penggaraman ini adalah meresapnya garam yang ditaburkan keseluruh tubuh ikan
secara lambat namun pasti, sehingga terjadi tekanan osmosis yang seimbang
antara caiaran yang terdapat didalam dan diluar tubuh ikan. Larutan garam yang
diluar tubuh ikan akan menyebabkan air yang berada dalam tubuh ikan terus
keluar sehingga makin lama sisa-sisa cairan yang berada dalam tubuh ikan
menjadi maikn kental dan kadar proteinnya menggumpal serta ses-sel daging ikan
menjadi mengkerut.
BAB V
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Pada
praktikum yang telah di laksanakan mengenai teknik pengolahan dan hasil
perikanan dapat di simpulkan :
©
proses penggaraman ini adalah ikan asin.
© Prinsip
penggaraman ini adalah meresapnya garam yang ditaburkan keseluruh tubuh ikan
secara lambat namun pasti, sehingga terjadi tekanan osmosis yang seimbang
antara caiaran yang terdapat didalam dan diluar tubuh ikan.
© Larutan garam yang diluar tubuh ikan akan
menyebabkan air yang berada dalam tubuh ikan terus keluar sehingga makin lama
sisa-sisa cairan yang berada dalam tubuh ikan menjadi maikn kental dan kadar
proteinnya menggumpal serta ses-sel daging ikan menjadi mengkerut.
© Faktor-faktor
yang mempengaruhi kecepatan penetrasi garam kedalma tubuh ikan yaitu, tingkat
kemurnian garam, ketebalan daing ikan, kesegaran ikan, temperature ikan, dan
konsentrasi larutan garam.
© pada
dasarnya penggaraman dilakukan untuk mengurangi kadar air dalam daging ikan
sampai ttik tertentu sehingga bakteri yang terdapat dalam daging ikan menjadi
mati.
© Metode
penggaram dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu penggaramna kering (dry
salting), penggaraman basah (wet salting), dan kench salting.
© Pada penggaram kering dapat digunakan untuk
ikan yang berukuran besar atau kecil. Penggaraman menggunakan garam berbentuk
Kristal, ikan yang akan diolah ditaburi garam lalu disusun berlapis-lapis.
Setiap lapisan ikan diselingi lapisan garam. Selanjutnya lapisan garam akan
menyerap keluar cairan didalam tubuh ikan, sehingga Kristal garam berubah
menjadi larutan garam yang dapat merendam seluruh lapisan ikan.
© Penggaraman Kering (Dry Salting) yaitu
Metode penggaraman kering menggunaka kristal garam yang dicampurkn dengan
ikan. Pada umumnya ikan-ikan yang besar dibuang isi perutnya terlebih dahulu
dan bila perlu dibelah agar dagingnya menjadi tipis
sehingga lebih mudah untuk ditembus oleh
garam. Pada proses penggaraman, ikan ditempatkan di dalam wadah yang kedap air,
misalnya bak dari kayu atau dari bata yang disemen. Ikan disusun selapis demi
selapis di dalam wadah, diselingi dengan lapisan garam. Jumlah garam yang
dipakai umumnya 10-35% dari
©
Penggaraman
Basah (Wet
Salting) yaitu
menggunakan larutan garam 30-50% (setiap 100 liter larutan garam berisi 30-50
kg garam). Ikan dimasukkan ke dalam larutan itu dan diberi pemberat agar semua
ikan terendam, tidak ada yang terapung.
©
Penggaraman
kench pada dasarnya adalah penggaraman kering, tetapi tidak menggunakan bak.
Ikan dicampur dengan kristal garam seperti pada penggaraman kering di atas
lantai atau di atas geladak kapal. Larutan garam yang terbentuk dibiarkan
mengalir dan terbuang. Cara tersebut tidak memerlukan bak, tetapi memerlukan
lebih banyak garam untuk mengimbangi larutan garam yang mengalir dan terbuang.
Proses penggaraman kench lebih lambat. Oleh karena itu, pada udara yang panas
seperti di Indonesia, penggaraman kench kurang cocok karena pembusukan dapat
terjadi selama penggaraman.
5.2 Saran
Pada praktikum yang telah di
laksanakan telah berjalan baik mengenai teknik pengawetan dan penggaraman,
semoga praktikum selanjutnya dapat mempraktekkan lebin dari satu metode agar
mengetahui perbandingannya.
Langganan:
Postingan (Atom)